Kamis, Januari 15MAU INSTITUTE
Shadow

TADABBUR KEMERDEKAAN; WASIAT PARA SALAF PENDIRI BANGSA YANG TERABAIKAN

Oleh: Teten Romly Qomaruddien

Genap sudah bangsa ini di usia kemerdekaannya yang ke-80. Usia yang telah melewati lebih setengah abad, sudah tentu banyak mengabadikan pengalaman hidup berbangsa dan bernegara yang sangat beragam; Zaman perebutan kemerdekaan dengan segala tantangan dan pengorbanannya, zaman revolusi dengan semua kecamuk pertarungan ideologi di dalamnya, zaman setelah pengakuan kedaulatan dengan semua dinamikanya, zaman awal pembangunan nasional [baik masa orde lama atau pun orde baru], hingga zaman reformasi dan setelah reformasi. Mulai dari persatuan dan kesatuan bangsa, kedaulatan negara, kesejahteraan rakyat, hingga kemajuan yang menjadi cita-cita luhur semua para pendiri negeri hingga kemakmuran anak bangsa menjadi bunga pembahasan yang kerap kali dibincangkan dari generasi ke generasi.

Perayaan demi perayaan kemerdekaan, senatiasa ditunjukkan sebagai luapan kegembiraan sebagai bangsa yang merdeka. Bukan hanya sekadar merdeka dari berbagai intimidasi musuh yang bersifat eksternal [al-istiqlaal], juga merdeka jiwa dari berbagai belenggu hidup yang menelikung diri yang bersifat internal [al-hurriyyah]. Sepertinya keseimbangan keduanya belum bisa dirasakan oleh semua lapisan masyarakat; Sebahagian ada yang telah merasakan ketercukupan, sehingga dirinya merasa merdeka, ada pula yang masih merasakan beragam himpitan persoalan hidup yang membebani jiwanya sehingga dirasakan belum merdeka sepenuhnya. Bahkan banyak pula yang merasakan tidak mendapatkan apa-apa dari keduanya.

Untuk memelihara sikap keseimbangan sebagai anak bangsa, maka memutar ingatan dan berkaca diri terhadap kehidupan para pendiri bangsa merupakan pewarisan nilai yang mesti dilakukan terus menerus. Masa lalu yang panjang bukanlah sekadar kisah mati yang tidak berguna, melainkan sesuatu yang hidup dan mesti dihidupkan. Sebagai generasi belakangan yang wajib meneladani kebaikan generasi masa lampau, maka berpegang teguh terhadap wasiat dan nasihat kebaikan mereka merupakan amanah perjuangan yang tidak boleh terputus.

Dalam konteks hari kemerdekaan bangsa Indonesia, patut kiranya seluruh lapisan anak bangsa merenungkan kembali dengan tulus butiran-butiran hikmah “para salaf” pendiri dan guru bangsa sebagai bahan introspeksi. Di antaranya adalah pesan-pesan perjuangan dan kemerdekaan dari seorang tokoh “mosi integral”, yakni Allaahu yarhamh Dr. Mohammad Natsir yang telah mempersatukan kembali negara ini dari Republik Indonesia Serikat [RIS] menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia [NKRI]. Salah satu petikan pesan emas yang layak diperhatikan adalah sebagai berikut:

Pertama; Tentang nilai sebuah pengorbanan. Menurutnya: “Dahulu, mereka girang gembira, sekalipun hartanya habis, rumahnya terbakar, dan anaknya tewas di medan pertempuran, kini mereka muram dan kecewa sekalipun telah hidup dalam satu negara yang merdeka, yang mereka inginkan dan cita-citakan sejak berpuluh dan beratus tahun yang lampau. Mengapa keadaan berubah demikian? Kita takkan dapat memberikan jawab atas pertanyaan itu dengan satu atau dua perkataan saja. Semuanya harus ditinjau kepada perkembangan dalam masyarakat itu sendiri. Yang dapat kita saksikan ialah beberapa anasir dalam masyarakat sekarang ini, di antaranya: Semua orang menghitung pengorbanannya, dan minta dihargai. Sengaja ditonjol-tonjolkan kemuka apa yang telah dikorbankannya itu, dan menuntut supaya dihargai oleh masyarakat. Dahulu, mereka berikan pengorbanan untuk masyarakat dan sekarang dari masyarakat itu pula mereka mengharapkan pembalasannya yang setimpal.” (Selengkapnya dapat dibaca pada buku Capita Selecta 2, Jakarta: PT Abadi, 2008)

Kedua; Tentang terjadinya perubahan sikap diri. Menurutnya: “Sekarang timbul penyakit bakhil. Bakhil keringat, bakhil waktu, dan merajalela sifat serakah. Orang bekerja tidak sepenuh hati lagi. Orang sudah keberatan memberikan keringatnya sekalipun untuk tugasnya sendiri. Segala kekurangan dan yang dipandang tidak sempurna, dibiarkan begitu saja. Tak ada semangat dan keinginan untuk memperbaikinya. Orang sudah mencari untuk dirinya sendiri, bukan mencari cita-cita yang di luar dirinya. Lampu cita-citanya sudah padam kehabisan minyak, programnya sudah tamat, tak tahu lagi apa yang akan dibuat.” (Masih pada buku Capita Selecta 2, Jakarta: PT Abadi, 2008).

Ketiga; Tentang mewabahnya penyakit cinta dunia dalam perjuangan. Kesaksian ini dikisahkan oleh para cendekiawan Muslim, seperti Dr. Amien Rais dan kawan-kawan pada 1980-an. Ketika ditanyakan kepadanya, penyakit apakah yang paling berbahaya bagi bangsa Indonesia? Dengan tegas Allaahu yarhamh menjawab: ”Salah satu penyakit bangsa Indonesia, termasuk umat Islamnya, adalah berlebih-lebihan dalam mencintai dunia”. Lebih jauh lagi dituturkan: ”Di negara kita, penyakit cinta dunia yang berlebihan itu merupakan gejala yang baru, tidak kita jumpai pada masa revolusi dan bahkan pada masa Orde Lama [kecuali pada sebagian kecil elite masyarakat]. Tetapi, gejala yang baru ini, akhir-akhir ini terasa amat pesat perkembangannya, sehingga sudah menjadi wabah dalam masyarakat. Jika gejala ini dibiarkan berkembang terus, maka bukan saja umat Islam akan dapat mengalami kejadian yang menimpa Islam di Spanyol, tetapi bagi bangsa kita pada umumnya akan menghadapi persoalan sosial yang cukup serius.” (Lihat: Percakapan Antar Generasi: Pesan Perjuangan Seorang Bapak, DDII, 1989).

Keempat; Tentang konsep sadar diri atas kekurangan dan selalu bersyukur atas anugerah yang diberikan Dzat Maha kuasa sembari berikhtiar memperbaikinya. Menurutnya: “Mengisi kemerdekaan, bagi kita adalah satu tindakan di dalam rangkaian bersyukur dan berterima kasih. Kita bersyukur kepada Tuhan yang telah mengaruniai kita hasil yang begitu hebat berupa Indonesia merdeka dalam masa yang begitu pendek, yakni 5 tahun saja. Republik Indonesia yang sudah kita punyai ini, kita yakini bahwa ia adalah kurnia Tuhan yang harus disyukuri. Banyak yang kurang dalam Republik kita ini. Banyak cacat-cacatnya. Banyak yang kita tidak puas melihatnya. Akan tetapi dengan segala cacat yang melekat pada Republik ini, kita harus terima Republik ini dengan rasa syukur nikmat. Bagi umat Islam mensyukuri nikmat itu, adalah suatu kewajiban. Tetapi harus diinsafi bahwa bersyukuri atas nikmat itu, bukanlah semata-mata bergembira ria dengan melepaskan segala insting-insting untuk mencapai sebanyak-banyak kesenangan dan kemewahan. Bersyukur nikmat artinya, ialah menerima dengan insaf akan apa yang ada, dengan segala kandungannya berupa kelemahan dan kekuatan yang terpendam di dalamnya. Diterima dengan niat memperbaiki. Memperbaiki apa yang belum baik, memperkuat mana yang belum kuat serta menyempurnakan mana yang belum sempurna. Itulah artinya bersyukur nikmat …” (Lihat: Capita Selecta 2, “Revolusi Indonesia”, PT. Abadi dan Yayasan Capita Selecta, 2008).

Dengan datangnya hari kemerdekaan 17 Agustus 2025 ini, semua lapisan anak bangsa diingatkan kembali untuk merenungkan pesan-pesan berharga ini. Teriakan merdeka saja tidaklah cukup, apabila tidak memahami kandungan makna yang sesungguhnya. Merdeka memang indah, namun tidak semudah memperjuangkannya. Wa maa an-nashru illaa min ‘indillaahi innallaaha ‘aziizun hakiimun.

Print Friendly, PDF & Email

4 Comments

  • Barokallohu fikum…. Mengingatkan kembali kpd para generasi muda akan pentingnya makna “Kemerdekaan” DiEra kehidupan yg notabene disibukkan dg era serba digital yg apabila tidak diingatkan maka makna tsb akan terkikis habis seiring dg perkembangan jaman diera digital tsb

  • Win

    Kita dianugrahi merdeka pd tgl 9 romadhon 1364 H dimana didalamnya ada perang badar dan Lailatul Qadar(ini yg banyak orang lupa) dengan pekik AllahuAkbar, tetapi justru yg dipakai dan disakralkan bahkan jd simbol negara tgl 17 Agustusnya(kalender masehi produk penjajah/yahudi) dinegeri yg mayoritas muslim knp justru bertasya buh menggunakan kalender masehi, bkn kah Nabi SAW mencontohkan untuk menyelisihi kaum yanaro seperti dlm puasa Sunnah 9/10 Muharom? Jd bgmn mungkin NKRI mau mendapatkan berkah n Rahmat Allah slm masih mengekor kaum yanaro

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!