Minggu, Mei 24MAU INSTITUTE
Shadow

PESAN PEMILIK LANGIT KEPADA PENDUDUK BUMI TERKAIT FENOMENA ALAM SEMESTA

Oleh: Teten Romly Qomaruddien

Sejak akhir tahun 2025, pihak Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika [BMKG] telah memperingatkan, bahwa memasuki tahun 2026 kemungkinan terjadinya curah hujan yang sangat tinggi. Karenanya, BMKG menghimbau agar masyarakat dan para pemangku kebijakan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi cuaca yang dapat berubah sewaktu-waktu serta potensi bencana hidrometeorologi akibat cuaca ekstrem. Masyarakat diharapkan lebih berhati-hati dalam merencanakan aktivitas, terutama perjalanan darat, laut, dan udara, serta kegiatan aktivitas lainnya.

Sebagaimana dialami sebahagian besar masyarakat akhir-akhir ini; Hujan yang tidak mengenal kata henti [pagi, siang, sore, malam, hingga bertemu pagi kembali], diiringi angin kencang, naiknya gelombang laut dan cuaca dingin kian dirasakan. Selain itu, dampak yang diakibatkan seperti halnya banjir bandang, tanah longsor, jebolnya tanggul, pohon tumbang dan ambruknya rumah penduduk hampir menjadi menu berita harian yang menghiasi media elektronik dan media digital di tanah air. Apa yang terjadi, bukan sekadar harus diyakini sebagai fenomena alam semata, melainkan sebagai bahan tadabbur untuk lebih meyakini keagungan Dzat yang Maha kuasa atas segala kehendak-Nya.

Selain sebagai penduduk bumi yang memiliki kewajiban mempelajari, menghidup suburkan bumi, menikmati dan mensyukuri dengan pencapaian ilmu pengetahuan teknologi yang dimilikinya, lebih dari itu manusia memiliki kewajiban bagaimana menjadikan fenomena alam ini sebagai perantara untuk lebih mendekatkan diri kepada Rabbul ‘Aalamiin. Menurut Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam Ad-Durul Mantsuur, alam semesta diciptakan menjadi pertanda [bahasa Arab ‘alaamat: artinya tanda] adanya Dzat yang menciptakan. Karena itulah, memahami kejadian alam tidak dapat dipisahkan dari pentingnya memahami Tuhan Pencipta alam tersebut.

Agar dalam menghadapi semua peristiwa alam tidak lepas dari protokoler Allah ‘azza wa jalla [selain ikhtiar manusia bagaimana menghadapinya], maka pesan-pesan langit yang telah digoreskan dalam gugusan firman-Nya, wajib menjadi renungan yang lebih mendalam. Di antaranya adalah:

A. Agar manusia mengimani bahwa semua yang terjadi tidak lepas dari kuasa Dzat Maha pencipta

قُلْ هُوَ ٱلْقَادِرُ عَلَىٰٓ أَن يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِّن فَوْقِكُمْ أَوْ مِن تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِيقَ بَعْضَكُم بَأْسَ بَعْضٍ ۗ ٱنظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ ٱلأيَٰتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ

Katakanlah: “Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan adzab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan [yang saling bertentangan] dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami. (QS. Al-An’aam/ 6: 65)

B. Suatu peristiwa terjadi dalam rangka memberikan rasa khawatir dan rasa takut manusia kepada Penciptanya

وَمَا مَنَعَنَآ أَن نُّرْسِلَ بِٱلْأيَٰتِ إِلَّآ أَن كَذَّبَ بِهَا ٱلْأَوَّلُونَ ۚ وَءَاتَيْنَا ثَمُودَ ٱلنَّاقَةَ مُبْصِرَةً فَظَلَمُوا۟ بِهَا ۚ وَمَا نُرْسِلُ بِٱلْأيَٰتِ إِلَّا تَخْوِيفًا

Dan sekali-kali tidak ada yang menghalangi Kami untuk mengirimkan [kepadamu] tanda-tanda [kekuasan Kami], melainkan karena tanda-tanda itu telah didustakan oleh orang-orang dahulu. Dan telah Kami berikan kepada Tsamud unta betina itu [sebagai mukjizat] yang dapat dilihat, tetapi mereka menganiaya unta betina itu. Dan Kami tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakuti. (QS. Al-Isra’/ 17: 59 )

C. Menyadarkan manusia bahwa dijadikannya bumi sebagai tempat yang layak untuk menetap

ٱللَّهُ ٱلَّذِى جَعَلَ لَكُمُ ٱلْأَرْضَ قَرَارًا وَٱلسَّمَآءَ بِنَآءً وَصَوَّرَكُمْ فَأَحْسَنَ صُوَرَكُمْ وَرَزَقَكُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ ۚ ذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمْ ۖ فَتَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلْعَٰلَمِينَ

Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kamu tempat menetap dan langit sebagai atap, dan membentuk kamu lalu membaguskan rupamu serta memberi kamu rezeki dengan sebahagian yang baik-baik. Yang demikian itu adalah Allah Tuhanmu, Maha Agung Allah, Tuhan semesta alam. (QS. Ghaafir/ 40: 64)

D. Untuk menunjukkan kepada manusia bahwa segala peristiwa yang terjadi tidak lepas dari kehendak Allah ‘azza wa jalla

أَوَلَمْ يَرَوْا۟ أَنَّا نَأْتِى ٱلْأَرْضَ نَنقُصُهَا مِنْ أَطْرَافِهَا ۚ وَٱللَّهُ يَحْكُمُ لَا مُعَقِّبَ لِحُكْمِهِۦ ۚ وَهُوَ سَرِيعُ ٱلْحِسَابِ

Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah [orang-orang kafir], lalu Kami kurangi daerah-daerah itu [sedikit demi sedikit] dari tepi-tepinya? Dan Allah menetapkan hukum [menurut kehendak-Nya], tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya. Dan Dia-lah Yang Maha cepat penghitungan-Nya. (QS. Ar-Ra’d/ 13: 41)

E. Agar manusia bertambah keyakinannya dan semakin tawakkal, bahwa di balik peristiwa yang terjadi ada perantara yang dapat menghubungkan antara Rabb dengan hamba-Nya.

Gugusan ayat sebelumnya mengisyaratkan, peristiwa demi peristiwa yang diturunkan hendaknya menjadi perantara [wasiilah] yang dapat menghubungkan antara Dzat Pencipta dengan manusia sebagai makhluk-Nya sehingga lebih menghadirkan kedekatan [taqarrub] dan lebih mampu menjalin keharmonisan dengan-Nya.

F. Merenungkan kembali bahwa peristiwa yang terjadi bisa jadi dikarenakan kesalahan dan dosa manusia, sehingga pentingnya introspeksi

فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنۢبِهِۦ ۖ فَمِنْهُم مَّنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُم مَّنْ أَخَذَتْهُ ٱلصَّيْحَةُ وَمِنْهُم مَّنْ خَسَفْنَا بِهِ ٱلْأَرْضَ وَمِنْهُم مَّنْ أَغْرَقْنَا ۚ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَٰكِن كَانُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

Maka masing-masing [mereka itu] Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (QS. Al-Ankabuut/ 29: 40)

G. Yang tidak kalah penting, selain qadar Allah ‘azza wa jalla mushibah terjadi bisa menjadi kesempatan emas yang mendorong hidupnya saling membantu [ta’aawun] dan saling mendo’akan sebagai bentuk pertaubatan menuju jalan-Nya

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ۬ فِى ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِىٓ أَنفُسِكُمۡ إِلَّا فِى ڪِتَـٰبٍ۬ مِّن قَبۡلِ أَن نَّبۡرَأَهَآ‌ۚ إِنَّ ذَٲلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ۬

Tidaklah suatu mushibah yang menimpa di bumi dan [tidak pula] pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam catatan Lauh Mahfuzh sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hadiid/ 57: 22)

ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَـٰبَتۡهُم مُّصِيبَةٌ۬ قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٲجِعُونَ

” … [Yaitu] orang-orang yang apabila ditimpa mushibah, mereka mengucapkan Innaa lillaahi wa innaa ilaiyhi raaji’uun.” (QS. Al-Baqarah/ 2: 156).

Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menuturkan dalam sabdanya:

مَا يُصِيبُ المُسْلِمَ، مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ، وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidak ada satu pun mushibah yang menimpa setiap Muslim, baik rasa lelah, sakit, bingung, sedih, gangguan orang lain, resah yang mendalam, sampai duri yang menusuk di badannya, melainkani Allah jadikan hal itu sebagai sebab pengampunan dosa-dosanya.” (HR. Bukhari no. 5641, dari shahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anh).

Sembari terus berikhtiar membantu saudara-saudara yang terdampak bencana, maka sikap terbaik dalam menghadapinya adalah mensyukuri anugerah [ni’mah] yang Allah ‘azza wa jalla berikan dan terhindar dari keburukan yang ditimpakan [niqmah], serta tetap berusaha berbaik sangka kepada-Nya [husnuz zhann] hingga melahirkan derajat kesabaran yang tinggi.

Dalam riwayat lain, Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menuturkan kekagumannya terhadap Mukmin yang berjiwa lapang.

عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan seorang Mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang Mukmin tersebut. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim no. 2999 dari shahabat Abu Yahya Shuhaib bin Sinan radhiyallaahu ‘anh).

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!