Selasa, Desember 9MAU INSTITUTE
Shadow

ILMU AMALIAH DAN AMAL ILMIAH; MENATA HIKMAH MERENDA AMALAN

Oleh: Teten Romly Qomaruddien

Selalu ada mutiara di setiap zaman; Yakni pelita peradaban yang senantiasa menunjukkan jalan, mengawal kehidupan dengan pengetahuan dan memberikan keteladanan dengan amalan. Pengetahuan di atas pengetahuan, atau dalam bahasa akademisnya “ilmu yang telah terverifikasi”. Itulah mutiara hikmah. Begitu pula asam garam kehidupan yang dipertunjukkan oleh orang-orang mulia, yang bukan sekadar tebar pesona dan isapan jempol pencitraan yang minim ketulusan.

Bagaimana seseorang mampu “menibakan makna kepada jiwa”, keselarasan antara ucapan dan perbuatan, kesesuaian ilmu dan amalan; Semuanya sangat tergantung kepada kemampuan orang tersebut dalam mensenyawakan semua itu dengan landasan iman dalam satu tarikan nafas yang tidak terputus. Ucapan [al-qaul], pengetahuan [al-‘ilm], perbuatan [al-‘amal], keyakinan [al-yaqiin] akan menjadi sempurna apabila disertai dengan keimanan [al-iimaan]. Untuk lebih jelasnya, keterpaduan tersebut bisa diperhatikan kaidah-kaidah para ahli ilmu berikut:

Pertama; Abu ‘Abdullah Muhammad bin Idris as-Syafi’i [w. 204 H.] memberikan wejangannya:

من أراد الدنيا فعليه بالعلم، ومن أراد الأ خرة فعليه بالعلم، ومن أرادهما فعليه بالعلم

“Siapa yang menginginkan [kebahagian] dunia hendaknya ia menggapai dengan ilmu, siapa yang menginginkan akhirat, hendaknya ia menggapai pula dengan ilmu, dan siapa yang menginginkan kebahagiaan keduanya hendaknya ia menggapainya dengan ilmu.”

Kalimat nasihat ini dinukilkan Imam An-Nawawi dalam Tadziibul Asmaa’ wal Lughaat dan Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam Thabaqaatus Syaafi’iyyiin sebagaimana dipetik Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz dalam Nuurun ‘Alaa ad-Darbi [no. 116483] yang menghubungkan ilmu dengan sumber ilmu, yakni Al-Qur’an. Menurutnya: “Perkara penting mengenai Al-Qur’an, adalah mempelajarinya, menghafalkanya, mengajarkannya, mengkajinya, mendalaminya, hingga mengamalkannya dengan segala ruang lingkup yang berhubungan dengan Al-Qur’an”.

Kedua; Imam Abu ‘Abdullah Muhammad bin Isma’il al-Bukhari [w. 256 H.] yang menuturkan kalimat popular-nya:

العلم قبل القول والعمل

“Ilmu itu mesti didahulukan sebelum ucapan dan perbuatan”.

Dalam pandangannya, dengan mengacu pada QS. Muhammad [47] ayat 19, bahwa tidaklah segala sesuatu melainkan diawali dengan yang paling terpenting, lalu yang penting [al-ahammu fal muhimmu]. Hal ini mengisyaratkan bahwa kedudukan yang terpenting itu adalah ilmu, dikarenakan ilmu tersebut merupakan syarat utama benar dan tidaknya ucapan dan perbuatan.

Ketiga; Sahl bin ‘Abdullah at-Tustari [w. 283 H.] mengisyaratkan:

الناس كلهم سكارى إلا العلماء، والعلماء كلهم حيارى إلا من عمل بعلمه

“Manusia semuanya laksana orang mabuk kecuali ahli ilmu dan ahli ilmu pun laksana orang bingung kecuali yang mengamalkan ilmunya.”

Nasihat ini dipetik oleh Al-Khathib al-Baghdadi dalam kitabnya: Iqtidhaa’ul ‘Ilmil ‘Amala [pada nomor tahqiq ke-22], yang menegaskan bahwa ilmu dan amal merupakan dua perkara yang tidak dapat dipisah. Keselarasan keduanya bagaikan dua muka pada sekeping mata uang yang saling melengkapi dan menyempurnakan. Dalam narasi yang berbeda, Ibnu ‘Asakir dalam Taarikh Dimasyq menukilkan ucapan Dzan Nun al-Mishri: “Manusia laksana orang mati kecuali ahli ilmu dan ahli ilmu laksana orang tidur kecuali mereka mengamalkan. Orang beramal tertipu dengan amalnya kecuali mereka yang ikhlas, sementara orang ikhlas mereka berada pada ujung kekhawatiran yang teramat besar”.

Keempat; Imam Abu Hamid al-Ghazali [w. 505 H.] yang mengingatkan:

العلم بلا عمل جنون والعمل بغير علم لا يكون

“Ilmu tanpa amal adalah kegilaan dan amal tanpa ilmu tidaklah bermakna”

Dalam risalahnya Ayyuhal Walad, dituliskan: “Wahai anakku … Hiduplah sesukamu, namun ingat bahwa engkau akan mati. Cintailah seseorang yang engkau mau, namun ingat suatu saat engkau akan berpisah. Lakukan sesuatu sekehendakmu, maka engkau akan mendapat balasan. Dan ilmu tanpa amal adalah kegilaan dan amal tanpa ilmu tidaklah bermakna. Hendaknya keduanya saling beriringan; Sesungguhnya ilmu semata tidak akan mampu menjauhkanmu dari maksiat dan tidak akan mampu menyelamatkanmu kelak dari neraka. Apabila hari ini engkau tidak bersungguh-sungguh dalam beramal, maka di hari kiamat engkau akan berkata: “Pulangkan kembali aku ke dunia agar aku bisa beramal shalih”. Lalu dikatakan padamu: “Loh, bukankah engkau baru datang dari sana?”

Kelima; Al-Hafizh Ibnu Qayyim al-Jauwziyyah [w.697 H.] yang menuturkan:

فالإيمان قلب الإسلام ولبه، واليقين قلب الإيمان ولبه. كل علم وعمل لايزيد الإيمان واليقين قوة فمدخول، وكل إيمان لايبعث على العمل فمدخول

“Beriman itu puncak tertingginya Islam, sedangkan yakin puncak tertingginya iman. Setiap ilmu dan amal yang tidak menambahkan dorongan kuat terhadap iman yang keyakinan, berarti terkontaminasi. Dan setiap iman yang tidak mampu membangkitkan semangat beramal, itu pun sama terkontaminasi”

Demikian ulama ini menjelaskan dalam kitabnya Al-Fawaaid [1/124]. Sementara gurunya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berargumen lain; Dengan bersandar pada hadits Tauhid “Man kaana aakhiru kalaamihi laa ilaaha ilallaah wajabat lahul jannah” [HR. Ahmad, no. 21529 dan HR. Abu Dawud, no. 3116 ], gurunya ini menegaskan hadits tersebut merupakan jantungnya agama dan keimanan [qalbud diin wal imaan], sedangkan seluruh perbuatan bagaikan anggota badannya.” (Lihat: Majmuu Fatawaa, 1/ 70)

Dari sekian mutiara yang tersebar di dasar samudera ilmu yang luas, semoga kaidah-kaidah ini dapat mewakili dalam membimbing kehidupan agar bisa melepaskan dahaga jiwa dalam mewujudkan ilmu amaliah dan amal ilmiah. Lebih bijak dalam menata hikmah dan lebih sadar diri [inshaaf] dalam merenda amalan. Allaahumma aati nafsii taqwaahaa wa zakkaahaa … Anta khairu man zakkaahaa, Anta waliyyuhaa wa mauwlaahaa

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!