Oleh: Teten Romly Qomaruddien

Bukan perkara mudah bagi seseorang untuk mengakui dan menyadari kesalahannya, namun akhirnya semua orang akan menerima kenyataan bahwa ada satu masa yang manusia tidak bisa lagi beralasan untuk menutupi kesalahan yang pernah diperbuat dirinya. Semua itu terjadi tidak lain karena masing-masing diri telah menjadi saksi utama dari apa yang pernah dilakukannya. Maka dengan sendirinya, setiap diri memberikan kesaksiannya. Allah ‘azza wa jalla berfirman:
يُنَبَّؤُا۟ ٱلْإِنسَٰنُ يَوْمَئِذٍۭ بِمَا قَدَّمَ وَأَخَّرَ
“Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya.” (QS. Al-Qiyaamah: 13)
بَلِ ٱلْإِنسَٰنُ عَلَىٰ نَفْسِهِۦ بَصِيرَةٌ
“Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri.” (QS. Al-Qiyaamah: 14)
وَلَوْ أَلْقَىٰ مَعَاذِيرَهُۥ
“Meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.” (QS. Al-Qiyaamah: 15).
Tiga ayat tersebut merupakan pemberitahuan dan sekaligus sebagai kaidah di antara kaidah Qur’ani lainnya yang menjelaskan persoalan yang berkaitan dengan pentingnya interaksi diri [at-ta’aamul ma’an nafs], juga merupakan media terapi untuk meningkatkan ketajaman kebeningan jiwa seseorang. Karena itulah, orang yang bisa lebih mudah memahami dirinya sendiri adalah mereka yang mampu membuka mata hatinya [bashiirah]. Tidak ada yang lebih mengetahui dengan sempurna akan kekurangan dan kesalahan diri melainkan dirinya sendiri. Sebab itulah seseorang akan berargumen dan melakukan pembelaan dengan berbagai alasan dikarenakan dia sendiri yang lebih mengetahui dari pada yang lainnya. Pepatah Arab menuturkan:
أنت حجة على نفسك!
“Engkau adalah orang yang lebih paham terhadap argumentasimu sendiri!”.

Untuk lebih mengetuk pintu kesadaran diri serta membidik secercah harap yang bisa kita jadikan sandaran keselamatan, maka menimba pengalaman dari gugusan hikmah dan pengalaman dari orang-orang bijak merupakan salah satu cara di antara kiat-kiat menjemput kemuliaan yang diidam-idamkan. Beberapa percikan sinar mutiara yang bisa kita ambil faidahnya adalah:
Pertama; Imam Qatadah rahimahullaah, ketika menafsirkan ayat Al-Qur’an Balil insaanu ‘alaa nafsihii bashiirah, beliau menuturkan:
إذا شئت والله رأيته بصيرا بعيوب الناس وذنوبهم، غافلا عن ذنوبه
“Jika menghendaki, demi Allah engkau akan mengetahuinya dengan ketajaman hati cacat-cacat dan dosa-dosa orang lain, namun lalai dengan dosa-dosa sendiri.” (Lihat: Tafsir Ath-Thabari, 34/ 63)
Kedua; Bakar bin ‘Abdillah al-Muzni rahimahullaah yang mengingatkan:
إذا رأيتم الرجل موكلا بعيوب الناس ناسيا لعيبه، فاعلموا أنه قد مكر به
“Apabila kalian melihat seseorang yang lebih fokus dengan cacat-cacat orang lain, namun lupa cacatnya sendiri, ketahuilah sesungguhnya dia tertipu karenanya.”
Ketiga; Imam As-Syafi’i rahimahullaah mengisahkan:
بلغني أن عبدالمالك بن مروان قال للحجاج بن يوسف: «ما من أحد إلا وهو عارف بعيوب نفسه، فعب نفسك ولا تخبىء منها شيئا»
“Telah sampai kepadaku sebuah berita bahwasanya Khalifah ‘Abdul Malik bin Marwan berkata kepada Gubernur Hajaj bin Yusuf: Tidaklah seseorang yang mengetahui cacat dirinya sendiri, maka celalah dirimu dan jangan disembunyikan sedikit pun.” (Lihat: Hilyatul Auwliyaa, 9/ 146)
Keempat; Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullaah memberikan komentar berharganya terkait dua ayat Al-Qur’an [Surat Al-Qiyaamah: 14-15] sebagai berikut:
فإنه يعتذر عن نفسه بأعذار ويجادل عنها، وهو يبصرها بخلاف ذلك
“Sesungguhnya orang yang berupaya mencari-cari alasan dan melakukan pembelaan, sebenarnya dia mengetahui dengan perbedaan tersebut.” (Lihat: Majmuu’ul Fataawaa, 14/ 445)
«فعلم أن من لم يعترف بذنبه كان من المنافقين»
Maka bisa diketahui, siapa yang tidak mengakui dosa dalam dirinya berarti termasuk golongan munafiqin.” (Lihat: As-Shaarimul Masluul, 1/ 363)
Kelima; Imam Ibnu Hazm al-Andalusi rahimahullaah memberikan pengalamannya:
كانت في عيوب، فلم أزل بالرياضة واطلاعي على ماقالت الأنبياء صلوات الله عليهم، والأفاضل من الحكماء المتأخرين والمتقدمين، في الأخلاق وفي أداب النفس، أعاني مداواتها، حتى أعان الله عز وجل على أكثر ذلك بتوفيقه ومنه، وتمام العدل و رياضة النفس والتصرف بأزمة الحقائق هو الإقرار بها، ليتعظ بذلك متعظ يوما إن شاء الله
“Diriku memiliki banyak cacat, maka aku tidak pernah berhenti untuk melakukan introspeksi diri dan menelaah kembali apa yang pernah disampaikan para Nabi shalawaatullaah ‘alaihim dan orang-orang bijak bestari [baik kalangan terdahulu atau belakangan] dalam perkara akhlaq. Dan pada diriku ada etika diri yang media-medianya bisa menolong aku hingga Allah ‘azza wa jalla benar-benar menolong dengan segala taufiq-nya. Kesempurnaan rasa keadilan, gerak rasa dan krisis hakikat merupakan ketetapan yang bisa menjadi nasihat saat ini in syaa Allah.” (Lihat: Rasaail Ibnu Hazm, 1/ 354)

Oleh karenanya, para Salafus Shaalih memberikan wejangannya:
أنفع الصدق أن تقر لله بعيوب نفسك
“Teman yang paling baik adalah yang menguatkan dirimu kepada Allah untuk mengenal cacat-cacat dirimu.” (Lihat: Hilyatul Auwliyaa, 9/ 292).
Sebagai penutup, sesungguhnya buah dari ketajaman mata hati pada diri itu, akan membuat manusia lebih mengakui dan menyadari terhadap kesalahan dan dosanya. Inilah kedudukan manusia yang mendekati pada tingkatan para Nabi [maqaamul anbiyaa], tingkatan orang-orang jujur [maqaamus shiddiiqiin] dan tingkatan orang-orang shalih [maqaamus shaalihiin]. Benarlah apa yang dilakukan Datuk atau Kakek umat manusia, yakni Adam ‘alaihis salaam bersama Nenek mereka Hawa’ yang dengan segera melakukan pertaubatan atas kesalahan yang diperbuat. Tanpa harus menunggu waktu yang lama, saat kesadaran menyapa, keduanya pun menunduk penuh penyesalan seraya mengalunkan untaian do’a: Rabbanaa zhalamnaa anfusanaa wa in lam taghfir lanaa wa tarhamnaa lanaakunanna minal khaasyiriin.

Alhamdulillaah. Jazaakumullaahu khair Tadz.