Oleh: Teten Romly Qomaruddien

“Tait Amaf Amaf Fani’ Letaf Nao Kibit Ma Fenekat Neu Ummat He Nao Mat”. Itulah tema besar yang diusung pihak penyelenggara safari dakwah akhir tahun 2025 Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia bersama lembaga dakwah lainnya yang dikonsentrasikan di kota Kupang Nusa Tenggara Timur. Tema yang bermakna: “Mewujudkan Peran Tokoh Sebagai Teladan, Pembimbing dan Fasilitator Dalam Kebaikan Umat” merupakan upaya panitia lokal dalam rangka membekali para Da’i dengan wawasan ilmu, juga menyapa binaan sebagai ummatud da’wah dan ummatul ijaabah sekaligus. Umat dakwah berarti siapa saja yang menjadi objek dakwah, sedangkan umat ijaabah adalah mereka yang telah menerima dakwah itu sendiri.
Perhelatan ini berjalan dengan baik atas kerjasama Dewan Dakwah Provinsi Nusa Tenggara Timur bersama Yayasan Isa Bin Maryam Jakarta, Forum Arimatea dan Istana Qur’an yang terhitung sejak hari Kamis hingga Ahad [28-30 November 2025] dengan agenda “Pembinaan Da’i Visioner” yang mengambil tempat di kota Kupang dan kampung Binaan Dewan Dakwah yang sekarang lebih dikenal “Kampung Qur’an” Oeue, Desa Mauleum, Kecamatan Amanuban Timur, Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Satu hal yang tidak boleh dilupakan dalam perjuangan dakwah Tauhid, di kawasan inilah seorang Raja [tepatnya kepala suku] mengikrarkan dua kalimat Syahadat yang diikuti ribuan masyarakatnya di tahun 1970-an. Seiring berjalannya waktu, sebahagian masyarakat bertahan dengan keimanannya dan tidak sedikit di antara mereka memilih keluar dari Islam dan kembali kepada keyakinan sebelumnya. Alasan inilah yang membuat Dewan Dakwah Nusa Tenggara Timur memandang perlu, agar pembinaan kawasan pedalaman benar-benar diperhatikan.
Untuk pembinaan para da’i visioner, difokuskan di kota Kupang yang dihadiri dan dipimpin langsung oleh Ustadz Muhammad Ramli, M.H. [Ketua Dewan Dakwah Provinsi NTT] tentang pentingnya strategi baru dalam menyelamatkan ‘aqidah umat, berlanjut dengan materi yang disampaikan K.H. Teten Romly Qomaruddien, M.A. [Ketua Pusat Kajian & Ghazwul Fikri Dewan Dakwah, Komisi Pengkajian & Dakwah Khusus MUI Pusat dan Ketua Komisi ‘Aqidah Dewan Hisbah PP. Persatuan Islam] dengan tema bahasan: “Pendekatan Utama Dalam Memahami Ajaran Agama” dan “Akar Ideologi Penyimpangan dan Kesesatan Dalam Beragama”. Materi pun dilanjutkan oleh Ustadzah Nevy Amalia [Mantan Biarawati dan Pegiat Literasi Lembaga Al-Kitab Indonesia] yang memaparkan kiat-kiat sukses menjadi pendakwah Tauhid yang dikomparasikan dengan misi agama lain. Tidak terlewatkan materi Wawasan Dakwah dan Bimbingan Ilmu Al-Qur’an yang disampaikan Ustadz Dr. H. Ahmad An-Nuri, M.A. [Bidang Pemberdayaan Daerah Dewan Dakwah], serta diakhiri dengan diskusi dan testimoni dakwah bersama Ustadz Iwan Setiawan [Sekretaris Jenderal Forum Arimatea Jakarta]. Dengan penuh antusias, para peserta yang terdiri dari para da’i senior dan junior dari berbagai pelosok mereka mengaku puas dengan acara yang insyaa Allah penuh barakah ini, sekalipun mereka harus menempuh perjalanan jauh [ada yang menempuh 6-8 jam perjalanan, bahkan 18 jam perjalanan darat dari Dili Timor Leste].

Selepas pembinaan para da’i, berkesempatan khutbah Jum’at di Mesjid Kelapa Lima Terusan Timor Raya Pantai Kupang dan Sabtu paginya bersiap melanjutkan safar dakwah menuju Perkampungan Oe Ue Amanuban Timur [dengan jarak 6 jam perjalanan darat dari kota Kupang] dalam rangka menyambung harap menyapa umat. Warga yang telah antusias menunggu hingga waktu jelang Maghrib, mereka bersiap diri menyambut kehadiran para tamu dengan upacara adat natoni berupa tarian pedang yang diiringi gamelan gong, sekaligus pengalungan selendang khas Amanuban oleh tokoh masyarakat setempat kepada perwakilan tamu sebagai penghormatan dan simbol ikatan shilaturahim. Sebagai negeri yang penuh keragaman budaya, tentu menjadi pertimbangan dakwah realitas bahwa tidak semua kearifan lokal [local wisdom, ‘urfi] mesti hilang selama tidak bertentangan dengan ‘aqidah dan syari’ah.
Sesuai agenda yang telah disiapkan, perhatian tokoh adat dan masyarakat pun kembali khidmat untuk mendapatkan beragam pencerahan. Dengan suasana penuh riang, jamuan makanan khas ala lembah Amanuban dengan “coklat Kupang” alias sambal penyerta goreng singkong dan goreng pisang, juga kebiasaan “nyirih pinang” [baik tua atau pun muda] menjadi hiasan penuh kekeluargaan di sela-sela keseriusan pengajian yang digelar. Mulai dari sambutan Kepala Adat, Kepala KUA hingga Ketua MUI setempat. Semangat yang kian berkobar, langsung dipimpin oleh Ketua Dewan Dakwah Provinsi yang dibantu para da’i muda Akademi Dakwah Indonesia [ADI] serta da’i pengabdian STID Mohammad Natsir Jakarta. Demikian pula sebelumnya, pengabdian serupa pernah dilakukan oleh beberapa santri Pesantren Persatuan Islam Sapeken Sumenep yang kini salah satunya telah menjadi pegawai ASN di Provinsi tersebut. Dengan penuh kegigihan, Ketua Dewan Dakwah Provinsi telah menebarkan penyemaian bibit-bibit da’i putra daerah yang dikirim ke Pondok-pondok Pesantren di pulau Jawa.

Masih suasana pengajian yang penuh bahagia dan haus akan ilmu, masyarakat tidak bergeming dari tempat duduk. Baik siang dan malam dipadati dengan kajian dan bimbingan; Ustadz Iwan dari Forum Arimatea memecah keheningan malam dengan materi “Dari Masjid Kita Bangkit”, besoknya berkesinambungan dengan materi yang membuka wawasan: “Menjadi Khalifah Allah di Muka Bumi” oleh Ketua Pusat Kajian Dewan Dakwah. Juga diramaikan pula dengan tanya jawab bersama Ustadzah Nevi seputar “Indahnya Hidayah Ilahi” yang dibandingkan dengan ajaran yang dianut sebelumnya. Ketika malam kembali datang, giliran Ust. An-Nuri menyapa masyarakat dengan gayanya yang familiar.
Dengan segala suka dan dukanya perjalanan menyusuri hutan demi hutan, ditambah hujan yang terus mengguyur kota, pesisir laut dan desa. Tidak terkecuali perjalanan kafilah dakwah ini, berkali-kali mengalami hambatan karena sungai besar yang dilalui terputus jembatannya. Selain harus turun melalui dasar sungai yang asalnya mengering [karena musim kemarau], kini giliran harus menerjang air sungai yang cukup deras [karena musim hujan]. Perjalanan sempat berhenti, dikarenakan salah satu mobil terjebak lumpur dan harus dibantu menyebrang arus sungai. Rawe-rawe lantas malang-malang putung, warga setempat pun turut berjibaku untuk menyebrangkan rombongan agar hari tidak ditelan malam yang mulai gelap berhiaskan awan pekat tandanya curah hujan akan segera turun.

Dua jam setengah sebelum kembali ke kota Kupang, Ustadz Ramli ditelpon tokoh masyarakat Soe, tepatnya Majelis Taklim Ikatan Wanita Sulawesi Selatan [IWSS] yang mengharapkan agar rombongan sudi untuk transit rehat sejenak di keluarga besar mereka. Kafilah pun berhenti sambil menikmati dan mensyukuri makanan barobo [bubur jagung gurih panas] yang menghangatkan usus sembari menyimak kembali paparan pengajian yang disampaikan di tengah-tengah tokoh masyarakat Bugis Makasar. Dengan dihadiri Ketua MUI kota Soe, al-faqir kembali didaulat menyampaikan materi yang disesuaikan dengan mayoritas ummahaat dan akhawaat yang hadir. Dengan membawakan materi: “Para Wanita Teladan Sepanjang Zaman”, suasana pun semakin meriah, karena ternyata di luar ruangan puluhan bapak-bapak pun turut pula menyimak dan meramaikan pertemuan di luar agenda yang dijadwalkan.
Setelah amanah ditunaikan, di antara anggota kafilah ada yang pamit terlebih dahulu karena mengejar agenda lain dan sebahagian besar untuk tetap tinggal beberapa hari dalam rangka evaluasi kegiatan dan merumuskan langkah dan program berikutnya yang lebih berdampak bagi kemajuan umat di masa mendatang. Islam kian berkembang apabila dikumandangkan dan dakwah Tauhid kian mempesona apabila terus digulirkan. Benar sabda Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan: “Sungguh perkara [Islam] ini akan mencapai apa yang dicapai oleh malam dan siang. Dan tidak akan tersisa sebuah rumah tembok pun, tidak pula rumah ilalang pun kecuali Allah akan masukkan agama ini ke dalamnya; dengan kemulian orang mulia atau dengan kehinaan orang hina. Kemuliaan yang Allah muliakan Islam dengannya [orang mulia tersebut], dan kehinaan yang Allah hinakan kekafiran dengan orang hina tersebut.” (HR. Imam Ahmad, Imam Ibnu Hibban dan Imam Al-Hakim dari shahabat Tamim ad-Dariy radhiyallaahu ‘anh. Syaikh Al-Albani menilai riwayat hadits ini shahih). Allaahumma faqqihnaa fid diin
