Sabtu, April 25MAU INSTITUTE
Shadow

HAYAATAN THAYYIBAH; KEBAHAGIAAN DAN KESEJAHTERAAN YANG DIRINDUKAN

Oleh: Teten Romly Qomaruddien

Tidak ada seorang pun di muka bumi ini yang tidak ingin hidup bahagia. Bahagia itu kehendak batin, bahagia itu cita-cita, dan bahagia itu puncak jiwa yang diinginkan. Membicarakan hidup bahagia merupakan sesuatu yang menyenangkan, terlepas apakah itu obrolan orang kaya atau pun celoteh orang papa. Apakah orang terpelajar, ataukah orang awam biasa. Tidak peduli memiliki kedudukan atau pun jelata. Yang jelas, membicarakan hidup bahagia adalah pembicaraan lintas sosial yang bebas sifatnya.

Mengukur kebahagiaan tentu saja takarannya berbeda-beda dan itu sangat tergantung pada keadaan dan posisi orang yang merasakannya. Seorang ilmuwan akan bahagia, apabila temuan risetnya berhasil. Demikian pula seorang pengusaha akan sumringah, apabila target perniagaannya tercapai. Kaum profesional seperti halnya seorang dokter akan sangat senang, apabila ikhtiar yang diupayakan dari diagnosa pasiennya berhasil. Sama seperti pengacara akan merasa sukses, apabila kliennya merasakan puas atas pelayanannya. Tentara pun demikian akan merasa sukses besar bisa menjalankan operasinya, apabila sasaran strategi dirasakan tepat bidik sesuai rancangan. Tidak terkecuali dunia dakwah dan pendidikan, para Guru akan merasa sangat gembira apabila anak didik dan binaannya berhasil menjadi manusia berguna dalam hidupnya.

Ternyata bahagia saja tidak cukup, apabila yang menjadi landasannya bukan amal shalih dan tujuan hidupnya bukanlah tujuan kehidupan yang baik. Demikian pula takarannya hanya sebelah mata, yaitu menakar keberhasilan hanya sekadar disandarkan pada keberhasilan duniawi semata yang jauh dari harapan untuk mendapatkan pahala Allah ‘azza wa jalla di akhirat kelak. Dalam Al-Qur’an diingatkan:

مَنْ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

“Siapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl/ 16: 97)

Dalam memaknai ayat tersebut, sebahagian para ulama memberikan penafsirannya. Di antaranya berikut ini:

Pertama; “Siapa yang mengerjakan amal shalih, baik lelaki maupun perempuan, sedang ia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, maka Kami akan beri dia kehidupan bahagia dan tentram di dunia, walaupun dia tidak banyak memiliki harta, dan kami benar-benar akan memberikan balasan pahala bagi mereka di akhirat dengan balasan yang lebih baik dari apa yang mereka perbuat di dunia.” (Lihat: Tafsiir Al-Muyassar, Kementrian Agama KSA)

Kedua; Makna falanuhliyannahuu hayaatan thayyibatan adalah: “Maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dengan rezeki yang halal dan kemudahan untuk mendapatkan manisnya ketaatan. Pendapat lain mengatakan yang dimaksud dengan kehidupan yang baik adalah kehidupan di surga kelak.” (Lihat: Dr. Muhammad Sulaiman Al-Asyqar, Zubdatut Tafsiir Min Fathil Qadiir)

Ketiga; “Siapa yang berupaya mengkombinasikan antara iman dan amal shalih, maka sungguh akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik. Anugerah tersebut maksudnya pemberian yang bersifat ketentraman hati dan ketenangan jiwa, serta tidak merasakan sesuatu yang dapat mengganggu hatinya. Allah memberinya rezeki yang halal dan baik dari arah yang tidak disangka-sangka dan sungguh akan Kami berikan balasan kepada mereka di akhirat dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan berupa aneka kenikmatan [surgawi] yang tidak pernah dilihat oleh pandangan mata, tidak pernah didengar oleh telinga dan tidak pernah terbetik di dalam hati manusia.” (Lihat: Syaikh ‘Abdurrahman as-Sa’di, Taiysiirul Kariimir Rahmaan Fii Tafsiiri Kalaamil Mannaan)

Beragam ulasan para ahli ilmu tersebut, selaras dengan apa yang pernah Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tuturkan dalam sabdanya:

قد أفلح من أسلم، ورُزق كفافًا، وقنعه الله بما آتاه

“Sungguh beruntung orang yang ber-Islam, memperoleh kecukupan rezeki dan dianugerahi sifat qana’ah atas segala pemberian.” (HR. Muslim no. 1054 dari shahabat ‘Abdullah bin Amr bin ‘Ash radhiyallaahu ‘anh)

Adapun makna qanaa’ah adalah merasa ridha dan cukup dengan pembagian rezeki yang Allah ‘azza wa jalla berikan. Lebih jauh lagi, sifat qanaa’ah merupakan salah satu ciri yang menunjukkan kesempurnaan iman seseorang, karena sifat ini memperlihatkan keridhaan orang yang memilikinya terhadap segala ketentuan dan taqdir Allah yang diberikan kepadanya, termasuk dalam hal pembagian rezeki. Sebagaimana Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan dalam sabdanya, “Akan merasakan manisnya [kesempurnaan] iman, orang yang ridha kepada Allah ‘azza wa jalla sebagai Rabb-nya dan Islam sebagai agamanya, serta Nabi Muhammad sebagai Rasul-Nya.” (HR. Muslim no. 34 dalam Faidhul Qadiir Lil Munaawi 4/ 508)

Secara global, Imam Al-Munawi rahimahullaah [w. 1031 H.] memahami tentang hadits tersebut sebagai berikut:

قد أفلح من أسلم ورزق كفافًا: أي ما يكف عن الحاجات، ويدفع الضرورات والفاقات، ولا يلحقه بأهل الترفُّهَات
أ
“Sungguh beruntung orang yang ber-Islam, memperoleh kecukupan rezeki, yaitu rezeki yang dapat mencukupi kebutuhan dan mengantisipasi kondisi darurat serta beragam kesukaran. Yang hal tersebut tidak mungkin dirasakan oleh para pelaku kemewahan.” (Lihat: Prof. Dr. Khalid bin ‘Ali al-Musyaiqih, Mauwsuu’atul Fataawaa).

Dengan demikian, kehidupan yang baik [hayaatan thayyibah] itu tidak hanya terpenuhinya rasa bahagia dan sejahtera di dunia saja, melainkan keshalihan paripurna yang akan didapatkan di negeri akhirat nanti. Dan sungguh negeri akhir itu adalah negeri yang lebih baik dari negeri permulaan [wa lal aakhiratu khairun laka minal uulaa] dan negeri akhir itu selain lebih baik, juga lebih kekal abadi [wal aakhiratu khairun wa abqaa]. Bahagia itu memang indah dan tidak harus mewah, mencukupkan yang ada dan tidak mencari yang tidak ada. Allaahumma a’innaa ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibaadatika

Print Friendly, PDF & Email

4 Comments

Tinggalkan Balasan ke Adinda Khalifah Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!