Oleh: Teten Romly Qomaruddien

Sepuluh hari awal bulan Dzulhijjah yang dikenal dengan ayyaamul ‘asyr, dengan segala kemuliaan di dalamnya kini telah berakhir. Menyusul tiga hari mulia berikutnya 11-13 Dzulhijjah yang disebut hari tasyriiq atau yauwmu aklin wa syurbin wa dzikrillaah, yakni hari pesta makan dan minumnya umat Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, serta mengingat keagungan Allah ‘azza wa jalla sembari menyantap hidangan lezat udhhiyyah yang disuguhkan bersama keluarga dan handai tolan.
Dalam suasana yang seharusnya kebahagiaan ini disyukuri bersama, namun kondisi ini tidak terjadi pada saudara-saudara kita di Palestina terutama Gaza. Saat lautan kaum Muslimin yang menunaikan ibadah haji tumpah ruah dengan linangan air mata dan fokusnya ibadah dengan khusu’ di Padang ‘Arafah, di saat yang sama jenazah mulia para syuhada Gaza berjajar menghiasi setiap harinya di seluruh kawasan penjuru kota dan desa mereka. Tempat-tempat ibadah, rumah sakit dan fasilitas umum lainnya tidak terlewatkan menjadi ladang pembantaian oleh manusia-manusia durjana yang angkara murka.
Di kala kaum Muslimin menunaikan ibadah shaum ‘Arafah yang pahalanya sangat besar [menghapus kesalahan dua tahun berturut-turut], perut-perut saudara kita telah lebih dahulu kosong dari makanan dan tanpa mengenal berbuka seperti kita. Saat kumandang takbir, tahmid dan tahlil bergelora menghiasi ruang jagat, dalam waktu bersamaan mereka harus tetap menabuh genderang perlawanan terhadap tentara pendudukan. Gema takbir para pejuang memekik kencang tanpa mengenal lelah sekalipun hanya dibersamai sepotong roti dan seteguk air saja. Kita bermunajat dengan penuh khidmat dan sembabnya kelopak mata, sementara mereka harus terus memeras keringat dan berkuah darah melawan pasukan penjajah.

Selagi kita berada pada waktu mustajaabah-nya do’a, kita berharap anugerah Dzulhijjah yang diberikan Allah ‘azza wa jalla senantiasa menggiring jiwa dan menggerakkan lisan untuk tidak kikir mendo’akan kebaikan kita dan kemashlatan mereka tanpa lelah dan bosan. Allaahu Akbar … Allaahu Akbar … Allaahu Akbar … Laa ilaaha illallaah wahdah laa syariika lah … Lahul mulku wa lahul hamdu wa Huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir … Laa ilaaha illallaah wahdah … Anjaza wa’dah wa nashara ‘abdah wa hazamal ahzaaba wahdah. “Allah Maha besar 3x … Tidak ada tuhan kecuali Allah yang Maha esa, yang tidak ada sekutu bagi-Nya … Hanya bagi Allah-lah semua kerajaan dan segala puji, serta Dia-lah Dzat yang Maha kuasa atas segala sesuatu … Tidak ada tuhan kecuali Allah yang Maha esa … Dia-lah Dzat yang bisa memenuhi janji-Nya, Dia pula Dzat yang bisa menolong hamba-Nya, dan Dia pula Dzat yang bisa mengalahkan musuh-musuh-Nya sendirian”.
Namun demikian, hanya sekadar do’a semata tidaklah cukup tanpa upaya-upaya lain yang bisa diusahakan. Meminjam ungkapan emas yang disampaikan Syaikh Yasser al-Dosari [Salah satu Imam Masjidil Haram yang bertugas dari tahun 2019-2023] dalam petikan hikmahnya: “Jika masalah umat Islam dapat diselesaikan melalui do’a, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak akan berperang. Dukunglah saudara-saudaramu di Gaza”. Apabila kemungkaran dan kejahatan tidak dapat kita hadapi dengan usaha yang lebih besar selain dengan hati kita, maka berdo’a adalah pilihan senjata kita sekalipun itu adalah selemah-lemahnya iman.
Membincangkan keutamaan bulan Dzulhijjah, tidak bisa dilepaskan dengan kemuliaan Ka’bah dengan Baitullaah-nya, juga Masjidil Haram dengan Makkah-nya. Demikian pula membincangkan Masjidil Aqsha, tidak bisa dilepaskan dari Baitul Maqdis dengan Palestina-nya. Artinya adalah, ketika kita tengah larut dalam berbagai keutamaan ibadah bulan Dzulhijjah yang melibatkan tempat-tempat penting [makaaniyyah] di kota Makkah, kita pun tidak boleh lupa terhadap suatu negeri yang di dalamnya ada qiblat pertama kaum Muslimin sebelum menghadap ke Masjidil Haram. Menyinggung masalah qiblat menjadi sangat penting, karena qiblat merupakan “titik persatuan umat Islam” di mana pun mereka berada. Wa haiytsumaa kuntum fawalluu wujuuhakum syathrahu. “Di mana pun kamu berada, maka hadapkan wajahmu ke arahnya”.

Oleh karenanya, sesuatu yang wajar apabila sekaliber Prof. ‘Abdul Fattah al-‘Uwaisi [seorang Pakar Hubungan Internasional Inggris berdarah Palestina] menuturkan keprihatinannya atas ketimpangan yang dilihatnya. Di satu sisi kaum Muslimin bergembira dengan beragam kemuliaan serta ibadah tahunannya yang sangat gegap gempita, di sisi yang lain saudaranya merintih membutuhkan pertolongan dan perhatian. Apa yang dituturkannya sungguh menyayat sukma yang paling dalam, menurutnya: “Tidak ada perayaan ‘Iedul Adhha tahun ini, selama Gaza dibantai dan diluluh lantahkan. Syi’ar Allah tetap kami agungkan, tapi tanpa gemerlap dan pesta. ‘Iedul Adhha tahun ini kami persembahkan untuk Gaza, sebagai bentuk dukungan untuk saudara-saudara kami yang terluka dan terjajah. Membela mereka adalah panggilan iman, kewajiban yang tidak bisa diabaikan”.
Semoga waktu-waktu yang tersisa ini, Allah ‘azza wa jalla masih memberikan kesempatan untuk kita berbuat amal shalih yang lebih berdampak pada kehidupan diri, keluarga dan sesama kita di mana pun kita berada. Inna shalaatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamaatii lillaahi Rabbil ‘aalamiin. “Sesungguhnya shalatku, ibadah pengurbananku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam”. Allaahu Akbar … Allaahu Akbar … Laa ilaaha illallaahu wallaahu Akbar … Allaahu Akbar wa lillaahil Hamdu
