MENCINTAI NABI SHALALLAAHU ‘ALAIHI WASALLAM DAN AHLUL BAITNYA TIDAK HARUS MENJADI SYI’AH

MENCINTAI NABI SHALALLAAHU ‘ALAIHI WASALLAM DAN AHLUL BAITNYA TIDAK HARUS MENJADI SYI’AH
Oleh:
H.T. Romly Qomaruddien, MA.

Belakangan ini, muncul anggapan kalau ingin sempurna mencintai Nabi dan keluarganya (ahlul bait) harus seperti cintanya orang syi’ah terhadap mereka. Buktinya, hanya kaum syi’ahlah yang benar-benar perhatian dan menunjukkan gelora rasa cinta dan rindunya. Berdirinya komunitas ahlul bait atau dalam bentuk ikatan jamaah ahlul bait, itulah wujud nyatanya.

Tentu anggapan itu, tidak dapat dibenarkan dan mengandung kekeliruan. Mengapa demikian? Hal ini dapat diperhatikan dari beberapa persoalan berikut ini:

1. Kedustaan belaka, andaikan mereka dikatakan senagai kaum yang sangat mencintai Nabi dan keluarganya. Bagaimana mereka dikatakan cinta, apabila mereka sendiri yang mensejajarkan Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam dengan manusia lainnya, walaupun manusia itu dicintainya. Menurut Syi’ah, “Nanti di hari kiamat seluruh makhluq binasa kecuali ‘Ali bin Abi Thalib dan Imam-imam syi’ah (mulai ‘Ali sampai Imam ke-12), juga imam-imam penerusnya”.

Mereka berpandangan, “Para Imam itu lebih utama dari kenabian, bahkan saking utamanya (menurut mereka) tidak bisa dijangkau oleh kekuatan malaikat sekalipun”. Demikian Imam Syi’ah Khomenei menuturkan dalam bukunya Al-Hukuumah al-Islaamiyyah“.

2. Kedustaan mereka dalam mencintai ahlul bait nya Rasuulullaah shalallaahu ‘alaihi wasallam. Hal ini nampak terbukti kebencian mereka terhadap shahabat Umar bin Khathab dan Abu Bakar as-Shiddiq radhiyallaahu ‘anhumaa yang nyata-nyata keduanya itu merupakan mertua Nabi. Mereka menodai keduanya dengan do’a laknat dan menyebutnya “dua berhala Quraesy”. Demikian juga, mereka membenci shahabat Utsman bin ‘Affan radhiyallaahu ‘anh yang nyata-nyata mantunya, Lalu mereka menuduh khalifah Utsman telah melakukan perubahan terhadap al-Qur’an (tahrieful Qur’an).

3. Mereka berlebihan dalam mengangkat shahabat ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallaahu ‘anh yang mereka posisikan sampai derajat Tuhan, atau minimalnya titisan Tuhan. Mereka benturkan dengan khalifah yang tiga sebelumnya dengan penuh caci maki dan mengatakannya sebagai “perampok kekuasaan”.

Ketidak jujuran mereka semakin nyata, ketika mereka pilih kasih dan tebang pilih dalam memposisikan Hassan dan Hussein sebagai cucunda Rasulullaah shalallaahu ‘alaihi wasallam, padahal keduanya sama-sama buah pernikahannya shahabat ‘Ali bin Abi Thalib dengan Sayyidah Fathimah az-Zahra radhiyallaahu ‘anhumaa. Mengapa mereka selalu mengunggulkan Husein dengan berbagai alasan yang dikaitkan dengan tragedi padang Karbala?

Sikap ekstreem yang begitu akut, membuat mereka “merasa lebih” dengan menyandarkan diri sebagai darah biru baginda Nabi. Bukankah Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam sendiri pernah bertutur dalam sabdanya: “Man baththa’a ‘amaluhu lam yusri’ bihi nasabuhu; siapa yang ketinggalan amal kebaikannya, darah biru atas nama nasabnya tidak bisa menggantikannya menjadi mulia” (HR. Muslim).

Jadi, mencintai Rasulullaah shalallaahu ‘alaihi wa sallam dan ahlul bait-nya, tidak berarti harus seperti syi’ah. Apalagi harus menjadi syi’ah … Wallaahul musta’aan.
______

Penulis adalah: Anggota Dewan Hisbah PP. Persatuan Islam (Komisi ‘Aqidah), Anggota Fatwa MIUMI Pusat (Perwakilan Jawa Barat), Wakil Sekretaris KDK MUI Pusat, Ketua Bidang Ghazwul Fikri & Harakah Haddaamah Pusat Kajian Dewan Da’wah dan Ketua Prodi KPI STAIPI-UBA Jakarta

Print Friendly, PDF & Email

2 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*