AMANAH AGUNG ITU BERUPA KEWAJIBAN AGAMA

AMANAH AGUNG ITU BERUPA KEWAJIBAN AGAMA
Oleh:
H.T. Romly Qomaruddien, MA.

Merupakan sunnatullaah, semua makhluk telah diciptakan sesuai dengan fithrah dan kehendak Allah ‘azza wa jalla. Ada yang hidup di daratan, ada pula yang hidup di lautan. Ada yang hidup di angkasa raya, ada pula yang hidup di perut bumi. Sebahagian menjadi makhluk pemangsa, dan yang lainnya menjadi makhluk yang dimangsa. Semua itu tidaklah tercipta dengan sia-sia, melainkan banyak hikmah dibalik semua penciptaanNya.

Di antara makhluk yang memiliki keunggulan, adalah manusia. Di samping diberikan organ yang sempurna, juga dianugerahkannya akal (‘aql). Namun, seringkali manusia tidak menyadarinya. Semakin Allah turunkan anugerah kenikmatan dan kelebihan, semakin berat pula amanah yang diembannya. Itulah yang disebut “pembebanan syari’at” (at-takliefus syar’i) yang wajib dipikul dan dipertanggung jawabkan, yaitu menerima perintah dan larangan Allah. Apabila perintah itu tertunaikan, dia berhak mendapatkan pahalaNya. Apabila dilanggar, menjadi dosa karenanya. (Ibnu Katsier, 3/ 629).

Karenanya, para ulama sebagaimana dituturkan Muhammad ‘Ali as-Shabuny menyebutkan bahwa kewajiban ini sebagai amanah agung (al-amaanatul ‘uzhmaa). (As-Shabuny, Shafwatut Tafaasir, 2/ 540).

Amanah agung ini, semata-mata penghargaan istimewa untuk manusia, di mana nabiyullaah Adam ‘alaihis salaam yang merupakan bapaknya manusia (abul basyar) dipercaya sebagai khalifatullaah fiel ardh. (QS. Al-Baqarah/ 2: 30). Al-Hafizh As-Suyuthi menjelaskan, “Bahwa pengertian khalifah di sini, maksudnya pergantian sebahagian mereka kepada yang lainnya dalam memelihara dan mengelola bumi”. Ungkapan senada ditegaskan lagi As-Shabuny: “Adam ‘alaihis salaam dan anak-anaknya yang berkembang abad demi abad, generasi demi generasi mendapat tugas untuk menerapkan hukum-hukum Allah di muka bumi (at-tanfiedz fiel ahkaam)”. (As-Shabuny, 2/ 48).

Ahmad Hasan Firhat dalam kitabnya Khalifatullaah Fiel Ardh, menukilkan catatan Imam Ibnu Jarier at-Thabary, bahwa “Khalifah yang dimaksud ayat tersebut adalah nabiyullaah Adam ‘alahis salaam dan orang-orang yang menggantikannya dengan taat kepada Allah. Adapun orang-orang yang menumpahkan darah dengan cara yang tidak hak bukanlah termasuk khalifatullaah fiel ardh”. (Hasan Firhat, hlm. 15).

Untuk lebih terujinya Adam sebagai khalifah, Allah pun memberikan seleksi (imtihaan, ikhtibaar). Yang pertama, berupa penyebutan nama-nama yang diajukan kepadanya dan berhasil dijawab (QS. Al-Baqarah/ 2: 31). Yang kedua, tergelincirnya Adam untuk tidak mendekati pohon (QS. Al-Baqarah/ 2: 35) karena bujukan syetan kepadanya (QS. Thaha/ 20: 120).

Pelajaran yang tidak kecil nilainya bagi generasi manusia berikutnya, menurut Muhammad ‘Abdul Hadi al-Mishri: “Untuk menjadi pemimpin di muka bumi bukanlah sesuatu yang mudah, melainkan ada beberapa syarat yang wajib dipenuhi, yaitu selalu berpegang pada ketaatan Rabbul ‘Aalamien yang memiliki perintah dan larangan itu sendiri. Manusia senantiasa dituntut untuk menunaikan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Semua itu dalam rangka menghormati, menjunjung tinggi, mencintai dan mengagungkanNya”. (Al-Mishri, Ma’aalimul Inthilaaqatil Kubra Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah, hlm. 18).

Sebagai penutup dapat disimpulkan, pengangkatan Adam ‘alaihis salaam sebagai khalifah bukanlah sekedar menjalankan tugas kauniyyah, yaitu menghidup suburkan dan mengelola bumi semata, melainkan tugas syar’iyyah, yaitu memelihara dan mengatur bumi dengan aturan agama. Itulah hakikat amanah syar’iyyah yang diembankan Allah ‘azza wa jalla kepada manusia, adapun manusia yang melalaikannya mereka itulah manusia yang berbuat zhalim dan bertindak bodoh (zhaluuman jahuulan) sebagaimana ditunjukkan ayatNya: “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat ini kepada langit-langit, bumi dan gunung-gunung. Semua menolaknya, karena khawatir akan mengkhianatinya. Dan manusia menerimanya, namun sesungguhnya manusia suka berbuat zhalim dan bersikap bodoh”. (QS. Al-Ahzaab/ 33: 72).
_______

✍) Disampaikan pada acara: Pesantren Alam dan Bakti Sosial Kafilah Radio Dakta Bekasi di Pesantren Persatuan Islam No. 81 Cibatu Garut.

Print Friendly, PDF & Email
News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by wp-copyrightpro.com