QIBLAT KAUM MUSLIMIN; KEUTAMAAN, SIMBOL KEPATUHAN, KEIMANAN DAN PERSATUAN

QIBLAT KAUM MUSLIMIN; KEUTAMAAN, SIMBOL KEPATUHAN, KEIMANAN DAN PERSATUAN
Oleh:

H.T. Romly Qomaruddien, MA.

Dijadikannya qiblat sebagai titik arah dan titik fokus kaum Muslimin, merupakan anugerah penuh keberkahan. Padanya ada keutamaan, simbol kepatuhan, keimanan dan Persatuan.

16 bulan lamanya, riwayat lain menyebutkan 17 bulan, kaum Muslimin berqiblat ke Masjid Al-Aqsha di Baitul Maqdis, Yerussalem Palestina. Negeri yang disebut jantungnya bilaadus syaam itu merupakan negeri di mana al-qiblatul uulaa berada. Negeri yang Al-Qur’an menyebutnya dengan al-ladzie baaraknaa haulahu, negeri-negeri yang Kami berkati, itulah negeri Syam yang meliputi di dalamnya Palestina, Syria, Libanon dan Yordania. Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam mendo’akan keberkahan untuknya Allaahumma baarik lanaa fie syaaminaa; Yaa Allah berkahi negeri Syam kami … berkahi negeri Syam kami …

Pasca perpindahannya dari Masjid al-Aqsha ke Masjid al-Haram, diawali dengan kegundahan Rasulullah yang langsung mendapatkan jawaban langit agar qiblat berpindah. Allah ‘azza wa jalla berfirman: “Sungguh Kami melihat engkau menengadahkan mukamu ke langit, maka Kami palingkan engkau ke qiblat yang engkau ridhai, maka hadapkanlah mukamu ke arah masjidil haram …” (QS. Al-Baqarah/2: 144).

Diawali pada shalat ashar di perkampungan Bani Salamah di Madinah, seiring turunnya wahyu Nabi-pun berpindah arah ke Masjidil Haram. Dua rakaat pertama menghadap al-Aqsha Baitul Maqdis, dua rakaat berikutnya menghadap ka’bah Masjidil Haram. Peristiwa ini lalu diikuti para shahabat ridhwaanullaah ‘alaihim tanpa kemusykilan sebagai bentuk kepatuhan dan ketaatan ummat kepada imamnya. Sampai kini masjid tersebut masih berdiri kokoh menjadi saksi sejarah perpindahan qiblat, makanya dikenal dengan Masjid Qiblatain, yaitu masjid dua qiblat yang sekarang letaknya tidak jauh dari Universitas Islam Madinah.

Dalam konteks teologis, qiblat menjadi simbol keimanan (syi’ar imaani) yang para ulama mendudukkan orang-orang yang masih mengimani ka’bah musyarrafah dengan sepenuh iman, tanpa ragu dan tanpa tandingan, karena tidak ada lagi teks ayat atau pun hadits Nabi yang menyebutkan ada qiblat lain selain al-aqsha sebagai qiblat pertama dan ka’bah di tengah-tengah masjidil haram sebagai qiblat kedua. Karena itulah, para ulama menyebut mereka orang-orang yang meyakini qiblat sepenuh keimanan sebagai ahlul qiblat.

Secara historis, qiblat memiliki daya rekat dan daya rakit yang kuat untuk meroketkan kekuatan ummat di seluruh dunia. Baitul Maqdis Palestina sebagai bumi hijrah para Nabi dan Baitullahil haram Mekkah sebagai rumah Allah yang dibangun bapaknya para Nabi (abul anbiyaa) Ibrahim ‘alaihis salaam yang terus dirawat dan dipelihara oleh keturunan dan pelanjut berikutnya dari zaman ke zaman. Sungguh luar biasa, penghormatan qabilah-qabilah Arab pada era sebelum kenabian, di mana Muhammad Al-Amien (Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam) mendapatkan kepercayaan masyarakat Arab waktu itu dalam memimpin perpindahan hajar aswad ke tempatnya setelah terhempas banjir, di mana hampir saja mereka terlibat konflik terkait “siapa di antara mereka yang lebih berhak” memindahkan batu hitam itu. Dengan jiwa kepemimpinan dan keadilannya, pemuda belia berusia 25 tahun itu mampu meredam perpecahan dan ancaman disintegrasi bangsanya.

Yang terakhir itulah, dalam qadhiyah tanah air mengilhami Allaahu yarhamh Tuan Ahmad Hassan dalam nasihatnya kepada Allaahu yarhamh Mohammad Natsir ketika Bung Karno menyerahkan urusan negeri ini kepadanya hingga munculnya gagasan “Mosi Integral” dalam menyelamatkan Indonesia yang terpecah belah menjadi 16 negara bagian setelah Konfrensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag Belanda (1949) dalam bentuk Republik Indonesia Serikat (RIS) buatan Van Mook menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang diumumkannya tanggal 03 April 1950. Sekali lagi, semua itu tidak lepas dari inspirasi bahwa qiblat sebagai simbol pemersatu ummat.

Semoga qiblat kaum Muslimin senantiasa terjaga dan terpelihara, juga masih menjadi daya kuat semangat persatuan ummat untuk mewujudkan kebersamaannya dalam menegakkan ajaran Allah dan rasulNya. Aamiin …
____________________

Penulis adalah: Peserta aktif shilaturrahim dalam pembentukkan Koalisi Indonesia Bela Baitul Maqdis di Bidakara Jakarta (Rabu, 25 April 2018)

Print Friendly, PDF & Email

3 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*