MENGENAL SEJARAH DAN AJARAN FAHAM BAHAIYYAH

MENGENAL SEJARAH DAN AJARAN FAHAM BAHAIYYAH
Oleh:
Teten Romly Qomaruddien

Dalam melakukan kajian apa pun, mengedepankan landasan teologis dan ideologis merupakan pendekatan yang harus dijadikan pijakan. Terlebih dalam mengkaji dan meneliti sebuah ajaran atau gerakan pemikiran.

Di antara ayat Al-Qur’an yang sering dijadikan pijakan adalah:

“Dan Sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertaqwa.”(QS. Al-An’âm/ 06: 153)

Al-Hâfizh Imam Ibnu Katsir menukilkan riwayat Imam Ahmad dari Ibnu Mas’ud radhiyallâhu ‘anh yang menceritakan bahwa Rasûlullâh shalallâhu ‘alaihi wa sallam membuat garis lurus dengan tangannya, seraya berkata: “Hadzâ sabîlullâh mustaqîman.” (Ini jalan Allah yang lurus). Lalu Rasûlullâh membuat garis ke sebelah kanan dan ke sebelah kiri, seraya berkata: “Hâdihis subul laisa minhâ sabîlun illâ ‘alaihi syaithânun yad’û ilaihi.” (Ini merupakan jalan-jalan syaithan yang mengajak ke jalannya). Lalu Rasûlullâh pun membacakan ayat tersebut. (Ibnu Katsîr, Tafsîrul Qur’ânil ‘Azhîm 2/ 1082).

Firman Allah ‘azza wa jalla lainnya adalah, QS. Al-Baqarah/ 2: 256 yang mengisyaratkan bahwa dalam menganut (ajaran) agama Islam tidak ada paksaan, dikarenakan Allah telah menjelaskan mana petunjuk (ar-rusyd) dan mana kesesatan (al-ghayy). Siapa mengingkari segala sesuatu selain Allah (setan, thâgût dan lain-lain) serta beriman kepada Allah, berarti mereka itulah orang-orang yang berpegang teguh dengan tali yang sangat kokoh (al-‘Urwatul wutsqâ).

Dalam konteks pandangan keulamaan, rumusan Majelis Ulama Indonesia cukup mewakili untuk dijadikan pegangan, di mana Pedoman Identifikasi Aliran Sesat yang ditetapkan di Jakarta, 25 Syawwal 1428 H./ 6 November 2007 dan ditanda tangani oleh Badan Pengurus Harian Drs. H.M. Ichwan Sam (Sekretaris Umum) dan Dr. K.H. M.A. Sahal Mahfudh (Ketua Umum) cukup menenteramkan. Suatu paham atau aliran keagamaan dinyatakan sesat bila memenuhi salah satu dari kriteria berikut:

1. Mengingkari salah satu dari rukun iman yang enam.
2. Meyakini dan atau mengikuti aqidah yang tidak sesuai dengan al-Qur’an dan as-sunnah.
3. Meyakini turunnya wahyu setelah al-Qur’an.
4. Mengingkari otentisitas dan atau kebenaran isi al-Qur’an.
5. Melakukan penafsiran al-Qur’an yang tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir.
6. Mengingkari kedudukkan hadits Nabi sebagai sumber ajaran Islam.
7. Menghina, melecehkan dan atau merendahkan para Nabi dan Rasul.
8. Mengingkari Nabi Muhammad sebagai Nabi dan Rasul terakhir.
9. Merubah, menambah dan atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan oleh syariah.
10. Mengkafirkan sesama muslim tanpa dalil syar’i.

Dalam konteks “aliran sesat”, maka pendekatan teologis merupakan prioritas (dibanding pendekatan lainnya), dan ini diakui para peneliti sebagai pendekatan “normatif idealistik”. Teks-teks kitabullah (al-Qur`an) dan sunnah nabiNya merupakan pijakan utama dalam melakukan penilaian salah dan benar atau sesat dan tidak sesatnya sebuah gerakan, golongan ataupun aliran, sekalipun sebagian para peneliti menganggap bahwa maraknya gerakan sempalan Islam itu sebagai fenomena sosial bukan fenomena doktrin keagamaan. Tentu saja, anggapan ini memiliki kelemahan di mana pendekatan sosial tidak memasuki ranah sesat dan tidak sesat dalam keberagamaan. (M. Yunan Yusuf dalam Strategi Da’wah Terhadap Aliran Sesat (makalah), hlm. 3).

Adapun konteks kenegaraan, lahirnya Penetapan Presiden Republik Indonesia Nomor 1/ PNPS/ Tahun 1965 Tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan atau Penodaan Agama serta adanya Fatwa MUI Tentang Pendangkalan Agama dan Penyalahgunaan Dalil (Munas II Tanggal 11-17 Rajab 1400 H./ 26 Mei – 1 Juni 1980) menjadi bukti hadirnya pemerintah dan lembaga otoritatif keagamaan dalam masalah ini.

Apakah Bahaiyyah itu?

Bahaiyyah atau Bahaisme, disebut juga Babiyyah atau Babisme adalah
sebuah gerakan keagamaan yang muncul pada tahun 1260 H./ 1844 M. di bawah asuhan Rusia, Yahudi Internasional & Kolonialis Inggris dengan sasaran utamanya penghancuran aqidah Islam, memecah belah ummat dan memalingkan ummat dari persoalan-persoalan yang mendasar. (Lihat: Lembaga Penelitian & Pengkajian WAMY dalam Al-Mauwsûat al-Muyassarah fiel Adyân wal Madzâhib al-Mu’âshirah: 1993)

Tokoh Kemunculan Bahaiyyah

Berawal dari tokoh Ahmad Zainuddin al-Ahsai (Syi’ah Iraq, 1157-1242 H.) dan Kazhim ar-Risyti (Syi’ah Iran, 1209-1259 H.), juga Mirza Ali Muhammad as-Syairazi (gelar Al-Bâb, 1235-1266 H.) dan Husein Ali al-Mazandarani (gelar Al-Bahâ, wafat 1233-1309 H.).

Dari aliran Syaikhiyyah menjadi Bâbiyyah dan Bahaiyyah (disandarkan kepada Syaikh Ahmad al-Ahsai). Adapun gelar Al-Bâb, artinya pintu. Maksudnya pintu yang menghubungkan manusia dengan imam yang hilang yang akan keluar pada akhir zaman (dalam keyakinan Syi’ah, itulah Al-Mahdi al-Muntazhar). (Lihat: Sayyid Muhibuddin al-Khatib dalam Al-Bahaiyyah: tp. tahun).

Sedangkan Baha artinya elok atau hebat, maksudnya keelokan Allah dalam mengangkat dirinya sebagai Al-masih di mana ia mengklaim bahwa Allah menjelma dalam dirinya, dialah tempat yang dipilih untuk menampakkan diriNya kepada makhluqNya. Ia merupakan jalan bagi munculnya nabi Musa dan Isa pada akhir zaman. (Lihat: Prof. Dr. Muhammad Abu Zahrah dalam Târikh al-Madzâhib al-Islâmiyah).

Para Pengikut dan Penyebar Bahaiyyah

Sebelum meninggal, Mirza Ali telah memilih dua orang pengikutnya; yaitu Yahya Ali Shubhul ‘Azal dan Mirza Husein Ali Bahaullah. Keduanya dibuang dari Persia oleh penguasa, yang pertama ke Cyprus dan yang kedua ke Adrianopel Turki. Tokoh lainnya, Qurratul ‘Ain Razin Taj (nama aslinya Fathimah; wanita penyair yang berambut emas dengan suara lembut dan merdu), Al-Mala Husain al-Basyarui dengan gelar Bâbul Bâb (orang yang pertama-tama memberi kabar gembira tentang munculnya Al-Mahdi al-Muntazhar, yaitu Mirza Ali Muhammad). Berikutnya, Al-Mala al-Barfarusyi dengan gelar Al-Quds (orang yang memandang adanya kesempatan menghancurkan tentara pemerintah pada masa peralihan Raja Muhammad Syah kepada Nashiruddin Syah). (Lihat: Prof. Dr. Muhammad Abu Zahrah dalam Tarikh al-Madzâhib al-Islâmiyah dan Dr. Musthafa Mahmud dalam Haqîqatul Bahaiyyah)

Akar Pemikiran dan Sifat Ideologi

Akar pemikirannya, bersumber dari ajaran campuran; Budha, Brahma, Zoroaster, Mannu, Mazdaq, Kebathinan, Yahudi, Kristen, Atheis dan warisan-warisan Persia sebelum Islam. (Lihat: Lembaga Penelitian & Pengkajian WAMY dalam Al-Mausûat al-Muyassarah fiel Adyân wal Madzâhib al-Mu’âshirah: 1993).

Untuk ajaran-ajaran yang berasal dari Persia Kuno dapat dibaca pada buku A.D. Elmarzdedeq dalam Parasit Aqidah; Sisa-sisa Peninggalan Agama Kultur. Adapun pandangan yang paling menonjol dari ajaran mereka bahwa tiga agama itu harus disatukan, sehingga tidak ada agama Yahudi, agama Kristen dan agama Islam. Yang ada hanyalah Dienullâh (agama Tuhan) atau mereka sebut juga “Agama Internasional.” (Lihat: H.M. Amin Djamaluddin dalam Capita Selekta Aliran-Aliran Sempalan di Indonesia : 2002).

Selain itu, sumber lain menyebutkan bahwa ajaran Bahai adalah campur aduk antara falsafah pantheisme (wujudiyah), ajaran hulul dalam tashawwuf, petikan-petikan dari Taurat, tantrisme dan yang terbesar ialah istilah-istilah Islam yang diberi arti menurut paham bathiniyah. (Lihat: Dr. Abdussabur Marzuki dalam Sekte Bahai: 1984, hlm. 11)

Kitab dan Ajaran Sekte Bahaiyyah

Al-Bab berkata dalam Miftâhu Bâbil Abwâb hlm. 20 tentang kitab sucinya Al-Bayan: “Saya ini lebih baik dari Muhammad, sebagaimana quranku lebih baik dari al-Quran Muhammad. Jika Muhammad mengatakan manusia tak kan mampu mendatangkan satu surat pun yang serupa dengan al-Quran, maka aku katakan bahwa manusia tak kan mampu mendatangkan satu huruf pun yang serupa dengan huruf quranku.”

Al-Bab berkata lagi dalam pidatonya (Bahai bab, hlm. 88): “Sesungguhnya Nabi kalian tidak meninggalkan setelah wafatnya selain al-Quran, maka inilah kitabku al-Bayan, bacalah dan baca niscaya kalian akan mendapatinya lebih fashih ungkapannya dari pada al-Quran, sedang hukum-hukum yang dikandungnya menghapus hukum-hukum yang ada dalam al-Quran.” (Lihat: Dr. Musthafa Mahmud dalam Haqîqatul Bahaiyyah).

Dalam sumber yang sama, Bahaullah berkata dalam Lauh Ahmad hlm. 154: “Sesungguhnya Ali Muhammad as-Syairazi adalah raja dari semua utusan Tuhan, sedangkan kitabnya al-Bayan, adalah kitab induk”. Al-Bab menegaskan: “Hendaklah kamu hapus segala yang pernah kamu tulis dan berpedomanlah dengan al-Bayan dan apa yang kamu karang dalam naungannya.”

Menurut Goldziher (orientalis Yahudi), bahwa Bahaullah lebih hebat dari Al-Bab, karena Al-Bab sekedar menjadi Al-Qaim, sedangkan Bahaullah Al-Qayyum, artinya yang tetap dan tinggal abadi. Oleh sebab itulah Al-Bab sekedar pemberi kabar gembira akan kemunculan Bahaullah. Diberitakan bahwa sebelum matinya Bahaullah (menderita gila di akhir hayatnya dan meninggal bulan Mei 1892 di Akka Palestina, dan putranya Abbas Effendi menggantikannya dengan diberi nama Abdul Baha atau Ghunun A’zham. Kini kuburannya dijadikan kiblat oleh orang-orang Bahai). Dirinya menaruh perhatian untuk menulis kitab Al-Aqdas yang diakui sebagai wahyu, mengajak ke agama baru (bukan Islam). Bahaullah menganggap agamanya universal, semua agama dan ras bersatu di dalamnya. Di samping kitab Al-Alwah oleh Shubhul ‘Azal Yahya Ali, tercatat pula ada kitab lainnya yaitu Al-Iqan dan Majmû’ah al-Alwah al-Mubârakah_ (Lihat: Sayyid Muhibuddin al-Khatib dalam Al-Bahaiyyah: tp. tahun).

Selain pokok-pokok ajaran tersebut, mereka pun memiliki keyakinan sebagai berikut:

1. Menghilangkan setiap ikatan agama Islam, menganggap syari’at telah kadaluarsa, persamaan antara manusia meskipun berlainan jenis warna kulit dan agama.
2. Mengubah peraturan rumah tangga dengan menolak ketentuan-ketentuan Islam, poligami tidak boleh dilakukan lebih dari dua istri, melarang talak kecuali terpaksa yang tidak memungkinkan antara kedua pasangan untuk bergaul lagi, istri yang ditalak tidak perlu menjalani ‘iddah.
3. Tidak ada shalat jama’ah, yang ada hanya shalat jenazah bersama-sama.
4. Ka’bah bukanlah kiblat yang diakui mereka, melainkan kiblat mereka adalah tempat Bahaullah tinggal, karena selama Tuhan menyatu dalam dirinya maka disitulah kiblat mereka.
5. Secara umum, mereka mempropagandakan pluralisme dan liberalisme. (Lihat: Hartono Ahmad Jaiz dalam Nabi-Nabi Palsu dan Para Penyesat Ummat: 2008 dan Tim Ulin Nuha dalam Dirâsatul Firaq: 2010).

Untuk lebih maksimalnya pengetahuan tentang ajaran mereka, ada beberapa kitab yang belum sempat dikaji, di antaranya: Al-Bahaiyyah; Al-Fikru wal ‘Aqîdah (1987) oleh Shalih Abdullah Kamil, Hiwârun Ma’al Bahaiyyin (1046 H) oleh Dr. Muhammad Abduh Yamani, Al-Bahaiyyah (1986), Al-Bahaiyyun Mudhallalûn (1986) dan Al-Qiyâmah wal Hayât ba’dal Maut (1986) oleh Hasyim ‘Aqil ‘Azuz.

Perkembangan Bahaiyyah dan Masuknya ke Indonesia

Diperkirakan pengikut Bahai di dunia berjumlah lebih dari 5 juta orang; Asia (3,6 juta), Afrika (1,8 juta) dan Amerika Latin (900 ribu). Hingga saat ini tercatat agama Bahai ada di 247 negara, anggotanya terdiri dari 2100 ras dan suku bangsa. Kedudukannya yang kuat tergambar perannya di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Bahai Internasional Community (BIC) memiliki hak berkonsultasi dengan organisasi-organisasi PBB, bahkan memiliki kantor di PBB New York dan Jenewa, begitu pula di komisi-komisi regional serta kantor-kantor PBB lainnya di Addis Ababa, Bangkok, Nairobi, Roma, Santiago dan Wina. Tahun 1970 BIC resmi menjadi Badan Penasehat Dewan PBB di bidang sosial ekonomi. Tahun 2000, dalam acara millenium forum yang diselenggarakan PBB, perwakilan Bahai menjadi satu-satunya wakil non pemerintahan yang diberikan kesempatan untuk berpidato. (Lihat: Dr. Drs. IGM Nurdjana, S.H., M.Hum. dalam _Hukum dan Aliran Kepercayaan Menyimpang di Indonesia_: 2009).

Adapun masuknya ke Indonesia, pertama kali pada tahun 1878 melalui Sulawesi yang dibawa oleh pedagang bernama Jamal Efendi (Persia) dan Musthafa Rumy (Turky). Keduanya berkunjung ke Batavia, Surabaya dan Bali. Pada tanggal 7 Oktober 1954 di Jakarta didirikan Madjelis Rohani Bahai Djakarta. (Lihat: Ahmad Riznanto dalam Mereka Menodai Islam: 2008).

Diberitakan pula, ketua Bahai Indonesia bahkan juga Asia Tenggara yang berusia 68 tahun (inisial KS tidak disebutkan, pen.) meninggal dunia di Bandung pada hari Senin tanggal 10 Februari 1997. Dia masuk Bahaiyyah pada tahun 1957 ketika menjabat sebagai Diplomat yang bertugas di Hongkong. Sumber yang hadir dalam upacara mayat tokoh Bahai ini menyebutkan bahwa mayat tersebut memiliki hubungan erat dengan seorang tokoh terkemuka yang dikenal sangat anti Islam di zamannya.

Walaupun perkembangannya di Indonesia tidak terlalu memperoleh tanggapan dari masyarakat, meskipun demikian sejumlah orang tertarik menjadi pengikutnya. Sejak tanggal 15 Agustus 1962, Presiden Soekarno mengeluarkan keputusan Presiden No. 264/tahun 1962 yang berisikan pelarangan tujuh organisasi, termasuk Bahai. Dalam surat itu dikatakan Bahai dilarang karena “tidak sesuai dengan kepribadian Indonesia” dan menghambat penyelesaian revolusi atau bertentangan dengan cita-cita sosialisme Indonesia. Meski demikian, di akhir tahun 1990an aliran ini mulai menunjukkan tanda-tanda aktivitasnya, hal ini menimbulkan keresahan dikarenakan dengan berpusat di Israel, diduga kelompok ini memiliki kaitan kuat dengan zionis Yahudi. (Lihat: Dr. Drs. IGM Nurdjana, S.H., M.Hum. dalam _Hukum dan Aliran Kepercayaan Menyimpang di Indonesia_: 2009).

Sementara di era berikutnya (dalam Hartono A. Jaiz: 2008), menurut Johan Efendi (mantan Ketua Badan Penelitian dan Pengembangan Agama Departemen Agama dan Sekretaris Negara masa Pemerintahan Gusdur) pertemuan dalam bentuk dialog, bahkan do’a bersama seringkali diadakan di Ciganjur.

Demikian, semoga menjadi tambahan informasi yang bermanfaat. Walladzîna jâhadû fienâ lanahdiyannahum subulanâ …
____________

Penulis adalah: Anggota Dewan Hisbah PP. Persatuan Islam (Komisi ‘Aqiedah), Anggota Fatwa MIUMI Pusat (Perwakilan Jawa Barat), Wakil Sekretaris KDK MUI Pusat, Ketua Bidang Ghazwul Fikri & Harakah Haddâmah Pusat Kajian Dewan Da’wah dan Ketua Prodi KPI STAI Persatuan Islam Jakarta.

Print Friendly, PDF & Email
News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by wp-copyrightpro.com