Rabu, Desember 11News That Matters

AGAR PENGALAMAN TIDAK SEKEDAR MENJADI PENGLAMAAN (Menerawang Generasi Pemimpin Zaman)

AGAR PENGALAMAN TIDAK SEKEDAR MENJADI PENGLAMAAN (Menerawang Generasi Pemimpin Zaman)
Oleh:
Teten Romly Qomaruddien

Lahirnya generasi pemimpin, bukanlah sebuah kelahiran yang tiba-tiba. Kemunculannya merupakan rentetan sanad perjalanan dari zaman yang satu ke zaman lainnya. Dalam perjalanannya ada rûhul jihâd yang satu sama lain bertemu dan senyawa, mengkristal menjadi satu kekuatan yang saling berkesinambungan.

Ada pengalaman sejarah yang mengajarkan, betapa “penglamaan” waktu tanpa terasa mengajak kita untuk berbuat sesuatu yang terukur dan benar-benar dipersiapkan, yaitu kaderisasi pemimpin masa depan yang tidak boleh terputus.

Ada langkah yang mesti dikayuh, ada tujuan yang mesti ditempuh. Walau terhalang zaman terhijab saat, ruh baik bertemu kembali dengan ruh baik yang saling mengikat.

Mungkin inikah yang dimaksud dengan apa yang sering kali kita dengar, bahwa Rasûlullâh shalallâhu ‘alaihi wa sallam bertutur: Al-arwâhu junûdun mujannadah famâ ta’ârafa minhâ i’talafa wa mâ tanâkara minhâ ikhtalafa. Artinya: “Ruh-ruh itu bagaikan prajurit perang yang berbaris rapih; tidaklah mereka satu sama lain saling bertemu melainkan saling tertambat, dan tidaklah ruh mereka saling bertolak melainkan saling berpisah.” (HR. Al-Bukhari dari shahabat Ummul Mu’minin ‘Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ).

Demikian halnya dengan kaderisasi pemimpin yang diharapkan berjalin berkelindan dari zaman ke zaman, saling mewasiatkan dan saling mewariskan nilai antara generasi satu sama generasi lainnya.

Suasana kejiwaan saat ini, ketika “penjajahan” dan perampasan hak kembali dipertontonkan di bumi Muslim mana saja. Sudah tentu, munculnya sosok panutan semisal Sulthân Shalahuddîn Al-Ayyubi yang membebaskan Baitul Maqdis dan Sulthân Muhammad Al-Fâtih yang menaklukkan Konstantinopel, menjadi kenangan yang diimpikan kembali menjadi harapan nyata.

Dalam prakteknya, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Keberhasilan mereka tidak lepas dari perjuangan “penglamaan” yang membutuhkan kesabaran berbalut ketawakkalan dan ikhtiar. Ini pun terjadi pada dua sosok yang sedang kita jadikan pelajaran.

Lahirnya Generasi Saladin; Ditandai dengan adanya reformasi moral yang mampu mengakhiri kekeringan spiritual, menghidupkan ilmu dan kesiagaan dalam penyusunan kekuatan. Kelahirannya tidak serta merta ada, melainkan kelanjutan estafeta generasi sebelumnya. Jerussalem berhasil dibebaskan Saladin (sebutan Sulthân Shalahuddin Al-Ayyubi) tahun 1187 M. merupakan perjuangan panjang sebelumnya yang sudah dipersiapkan sejak Sulthân Nûruddîn Zangki (w. 1146 M.) dan ayahandanya Sulthân ‘Imâduddîn Zangki.

Lahirnya Generasi Al-Fâtih; Ditandai dengan bagaimana fungsi ulama “Rabbâniy” mengawal setiap kader yang siap menjadi bintang masa depan. Dorongan orang tua yang shalih seperti halnya Sulthân Murâd II dan dukungan serta kawalan guru yang mumpuni seperti halnya Syaikh Âq Syamsuddîn yang mampu melahirkan sosok Sulthân Muhammad II menjadi sang penakluk Konstantinopel (29 Mei 1453 M.) dari cengkeraman Romawi Timur Byzantium. Begitu berpengaruhnya ajaran sang guru hingga menjadi cita-cita. Apakah ini yang dimaksud dalam tutur Nabi shalallâhu ‘alaihi wa sallam terkait qasthanthîniyyah berikut:

<<لَتُـفْتَحَنَّ الْقُسْطَنْطِينِيَّةُ فَـلَنِعْمَ الْأَمِيرُ أَمِيرُهَا، وَ لَنِعْمَ الْجَيْشُ
ذَلِكَ الْجَيْشُ>>

“Konstantinopel akan ditaklukkan. Sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin yang memimpin penaklukkannya dan sebaik-baik tentara adalah tentara yang menaklukkannya.” (HR. Bukhâri, Ahmad, dan Al-Hâkim).

Kini Baitul Maqdis kembali dicengkeram tangan-tangan kotor durjana, Namun di hari ini pula, kita diingatkan bahwa kaum Muslimin pernah mampu menaklukkan imperium besar Romawi. Semoga kita mendapatkan pelajaran berharga, betapa “penglamaan” yang terukur dan dipersiapkan dengan baik akan melahirkan pengalaman yang sesungguhnya.

Dua sosok dimaksud, hanyalah contoh nyata perjalanan panjang sejarah. Di mana lahirnya seorang pemimpin tangguh yang diharapkan ummat, tidak dapat dilepaskan dari sejauhmana kaderisasi kepemimpinan ummat dilakukan.

Demikian pula, segala anashir yang dapat menyangganya, sejauhmana prosesnya dapat dikerjakan. Memunculkan pemimpin yang prima, sangat ditentukan oleh kaderisasi yang prima pula. Lahirnya kader yang prima, ditentukan pula oleh prosesnya yang paripurna. Meminjam kaidah ahli ushul Mâ lâ yatimmul wâjibu illâ bihi fahuwa wâjibun; “Tidak akan sempurna sebuah kewajiban kecuali ditopang dengan perkara yang mendukungnya, maka memproses penopangnya tersebut menjadi wajib pula.”

Belajar dari kedua tokoh tadi; Tersedianya waktu yang cukup untuk kaderisasi, dukungan internal keluarga atau pun kelompok, bimbingan guru ideologis, bangkitnya kekuatan moral-spiritual, adanya soliditas jamaah dan ummat dengan segala kesigapannya, keteladanan sang imam, serta hadirnya ulama rabbâniy menjadi salahsatu indikator paling dominan akan lahirnya generasi emas itu.

Dalam konteks keummatan kita, sudah sewajarnya generasi hari ini harus banyak menimba pengalaman dari para pendahulu. Di situ ada kearifan (hikmah), di situ ada introspeksi (muhâsabah) dan di situ pula ada “pewarisan dan penebaran nilai” (nasyrul qiyam).

Al-Qur’ânul Karîm mengisyaratkan, ada dua model generasi pelanjut yang akan menggantikan kehidupan seseorang; Pertama, generasi yang akan melanjutkan kebaikan-kebaikan yang pernah dilakukan generasi masa lalu, mereka disebut “khalafun.” Kedua, ada pula generasi pelanjut yang tidak menjalankan kebaikan generasi masa lalu. Mereka disebut “khalfun.”

Allah ‘azza wa jalla berfirman dalam kalamNya:

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا

“Maka datanglah sesudah mereka, generasi pengganti (yang buruk) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS. Maryam/ 19:59)

Walladzîna jâhadû fînâ lanahdiyannahum subulanâ …

______

Penulis adalah: Peminat dan pegiat Kajian Tsaqâfah dan Hadhârah Islâmiyah Madrasah Ghazwul Fikri Pusat Kajian Dewan Da’wah

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by wp-copyrightpro.com