Kamis, September 23MAU INSTITUTE
Shadow

KADER DA’I ITU KINI JADI BUPATI

KADER DA’I ITU KINI JADI BUPATI
Oleh:
Teten Romly Qomaruddien

Antara tahun 2001-2005an, Al-Faqir dipertemukan dengan kader-kader da’i asal daerah dan lintas Ormas da’wah di Pusdiklat Dewan Da’wah Tambun Selatan Bekasi (di mana asrama mahasiswa UNIM kala itu/ STID Mohammad Natsir sekarang berlokasi di sana), qaddarallaah saat itu mendapat amanat sebagai musyrif pertama di asrama tersebut. Di antaranya ada para utusan dari Borneo, alias Kalimantan Barat. Tepatnya Kabupaten Sambas, yakni tempat yang sempat melahirkan orang-orang hebat dalam sejarah.

Seorang ulama Syaikh Ahmad Khatib Sambas (1803-1875), lahir di kota itu. Juga tokoh modernis yang kritis Muhammad Basiuni Imran (1885-1976) sebagai Maharaja Imam kedua dan Mufti Kesulthanan Sambas, yang pernah mengajukan pertanyaan yang mendunia kepada Syaikh Muhammad Rasyid Ridha tahun 1929an. Limaadzaa Ta’akhkharal Muslimuuna wa Taqaddama Ghairuhum, lahir di kota yang sama.

“Mengapa kaum Muslimin mundur, sedangkan kaum yang lain maju?” Itulah pertanyaan menggelegar yang nanti seorang penulis ternama asal Libanon (kepercayaan Muhammad Rasyid Ridha) mengabadikannya menjadi buku yang sangat menjagat dan berkemajuan (dikerjakan selama tiga hari tiga malam) dengan penuh tanggung jawab setelah kepulangannya dari Spanyol.

Hubungannya dengan tahni’ah ini, hanya ingin mengatakan bahwa Sambas pernah melahirkan pemimpin dan ulama terkemuka, bahkan menjadi “Serambi Mekkah” di zamannya. Dengan tampilnya kader da’i menjadi pemimpin ummat, tentu sebuah keniscayaan dan harapan yang sangat besar.

Seorang anak muda keturunan (maaf), yang sudah lama menjadi mu’allaf (nama asalnya Thong Ci Yung yang sejak kelas tiga SMP Tunas Harapan Sebawi (sebelumnya SDN 26 Senturang), mendapatkan hidayah Allah, dari Kong Hu Chu menjadi seorang Muslim), masuk Aliyah GAPERMI Tebas, dan setelahnya memilih menjadi santri di Pesantren Ibnu Taimiyyah Singkawang asuhan Ustadz Hanbali di bawah arahan orang tua asuhnya KH. Ahmadi Muhammad (Ketua MUI Kabupaten Sambas).

Semasa tinggal di asrama Pusdiklat Dewan Da’wah (mahasiswa STID Mohammad Natsir ini) selalu tampil klimis, menjadi ciri khasnya; setiap bakda shubuh jelang dhuha sudah ada di depan pintu rumah Imam Masjid ‘Abdurrahman Al-Bahr. Di kala hari libur kuliah, pasti minta idzin keluar asrama. Kalau tidak ke Mangga Dua, tujuan lain adalah Tanah Abang, Senen atau Jatinegara sebagai pilihannya. Kembali ke asrama, sudah pasti ada saja barang yang di jual, bahkan dititipkan di warung-warung terdekat (seperti minyak wangi). Begitu sangat disiplinnya mengatur waktu, apiknya menata anggaran hidup membuat Allaahu yarhamh Ummu Yazied mempercayakan administrasi Diniyyah (Madrasah Sore Masjid Al-Bahr yang dirintisnya) kepada dirinya. Tak cukup sampai di sana, perkakas belajar pun ia lengkapi seluruhnya.

Integritas kedisiplinan begitu dijaga, di samping sangat percaya diri kalau dirinya mampu dan mau berubah untuk melakukan sesuatu yang terbaik. Dua momentum yang tidak dapat dilupakan dalam hal ini; Tanpa diminta, suatu saat ia menyodorkan pengajuan kalau dirinya siap remedial nilai dibawah 60 menjadi 75 atau 80, dan ia melakukannya penuh antusias. Minggu berikutnya, ia sodorkan paper semacam diktat ajar yang disusunnya sendiri. Judulnya: Tuntunan Shalat Sesuai Sunnah Rasul. Betapa terkejut dan bahagianya mendapat “hadiah” diktat tersebut. Ketika Al-Faqir tanya, untuk di mana Akhi Ton (panggilan Satono Muhammad Thong setelah berganti nama) buku yang antum tulis ini? Untuk di kampung halaman Stadz, jawabnya singkat. Betapa terharunya hati ini dan waktu itu juga bergegas menyambutnya karena minta buku diktatnya segera dikoreksi. Tak lama kemudian, seiring selesainya masa studi, dirinya pun pulang kampung.

Sangatlah wajar, pola hidup disiplin begitu dipegang, ternyata watak ini bukanlah proses dadakan, melainkan sudah menjadi prinsip hidupnya sebagaimana tertuang dalam nasihat Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo (berbahasa Tiongkok) yang menempel di dinding rumahnya di Dusun Mentawa, Desa Tanjung Mekar Sambas (al-hamdulillaah Al-faqir sempat mengabadikannya). Adapun butir-butir filosofinya, adalah sebagai berikut (terjemahannya):

  1. Di dunia ini ada dua kesusahan; Naik surga susah, tetapi minta tolong orang lebih susah.
  2. Di dunia ini ada dua kepahitan; Obat huang lian pahit, tetapi kemiskinan lebih pahit.
  3. Di dunia ini ada dua bahaya; Kalangan kang ouw berbahaya, tetapi hati orang lebih berbahaya.
  4. Di dunia ini ada dua hal tipis; Kertas itu tipis, tetapi persahabatan lebih tipis.

Minggu berganti bulan, dan bulan berganti tahun. Tepat tahun 2008 tiba-tiba Al-Faqir dapat undangan, menghadiri “orasi ilmiah” (menjadi badal Ustadzunal Fadhil KH. Syuhada Bahri yang berhalangan hadir) pada kuliah iftitah Lembaga Pendidikan Da’wah Islam (LPDI) ke-1 yang dirintisnya bersama tokoh-tokoh Sambas, menyusul undangan berikutnya “tabligh akbar” pada acara Tasyakkur Kiber yang ke-29 tahun 2009. Dengan jargon “Sambas Terpikat Terigas; Tingkatkan Ekonomi Kerakyatan, Religius, Pendidikan dan Kemasyarakatan” dalam rangka mengantarkan masyarakat Kabupaten Sambas lebih bermartabat di masa para Bupati sebelumnya. Pertemuan da’wah pun kian berjalin berkelindan hingga undangan berikutnya dalam acara roadshow da’wah ke wilayah-wilayah pelosok Sambas; mulai dari Galing, Tebas, Sekura, Kartiasa, hingga Pemangkat dalam rangka da’i menyapa ummat.

Laksana kata pepatah: “Inna ahlaamal yaum haqiiqatul ghad”, yakni mimpi di hari ini menjadi kenyataan di hari esok. Bi idznillaah, di bawah naungan doa para Guru dan orang-orang yang menginspirasi, serta dukungan masyarakat yang mencintainya, kini tokoh muda bernama H. Satono, S.Sos.I, MH (lahir di Senturang tahun 1980) ini, resmi menjadi Bupati Kabupaten Sambas periode 2021-2024. Sebagai ucapan syukur, di tengah-tengah sakitnya Ustadz Syuhada menuturkan kegembiraannya: “Sebagai alumni mahasiswa da’wah, Ustadz Satono benar-benar telah mewujudkan perkataan Allaahu yarhamh Dr. Mohammad Natsir bahwa dengan da’wah segalanya akan terjawab.” Tegasnya ringkas.

Suami dari Ibu Hj. Yunisa, S.Pd. ini, dikaruniai 4 orang anak. Di samping sibuk merampungkan studi S2 Hukum di UNTAN Pontianak, selain aktif sebagai Ketua Dewan Da’wah Sambas, Ketua PITI Sambas, Ketua Pembina ADI Sambas, Ketua PARMUSI Sambas dan Ketua Yayasan Rumah Da’i Indonesia, juga pernah aktif di Pemerintahan Daerah sebagai: Kepala Penyelenggara Zakat dan Waqaf Depag, Kasi Haji dan Umrah Depag, Kabid Sosial Disnakertrans Kabupaten, Kepala Kantor Arsip dan Perpustakaan Kabupaten, Sekretaris Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten, serta Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah. Semuanya di Kabupaten Sambas, yang menunjukkan bahwa dirinya putra daerah yang tidak diragukan lagi tentang wawasan kedaerahannya.

Kini, amanat juang masyarakat Sambas ada di pundaknya. Sebagai Guru, sahabat, saudara atau pun handai taulan yang sedikit banyaknya pernah menyaksikan gerak-geriknya, hanya bisa berharap dan mendo’akan yang terbaik agar seberat apa pun pikulan dan ujiannya dapat terasa ringan. Benar apa kata para pendahulu yang bijak: “Memimpin itu menderita”. Maksudnya, tidaklah seseorang menyatakan kesediaannya menjadi pemimpin, melainkan ia siap berkorban hatta harus menderita sekalipun. Sayyidul qaum khaadimuhum; “Pemimpin suatu kaum, hakikatnya adalah siap menjadi pelayan bagi kaumnya.” Namun demikian, dengan dorongan do’a yang tulus dan ikhtiar yang maksimal, in syaa Allah apa yang dicita-citakan dalam motto: “Menuju Sambas Berkemajuan 2030” akan menjadi kenyataan.

Tiada gading yang tak retak, kesempurnaan hanya milik Allah ‘azza wa jalla, dan keterpeliharaan dari kesalahan (ma’shum) hanya untuk Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Selamat berkhidmat bapak Bupati, antum adalah Da’i, dan sampai kapanpun antum tetap seorang Da’i di mata kami dan orang-orang yang mencintaimu … Aamiin yaa Rabb


*) Ditulis sejak pertemuan Shilaturrahim Bupati Sambas Terpilih 2021-2024 bersama Pimpinan Dewan Da’wah yang dipimpin Dr. H. Adian Husaini (Ketua Umum) beserta jajaran Pengurus di Lantai dua Ruang Rapat Menara Da’wah, jelang menuju Arya Duta Hotel Menteng Jakarta Pusat (Rabu bakda zhuhur, 03 Maret 2021)

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!