Kamis, Desember 11MAU INSTITUTE
Shadow

MENDIGDAYAKAN ISLAM DI BALIK KESEDERHANAAN

Oleh: Teten Romly Qomaruddien

Setelah mengetahui keistimewaan dari kepribadian [manaaqib] shahabat Abu Bakar As-Shiddiq radhiyallaahu ‘anh, kini gilirannya mendulang hikmah sang Khalifah kedua kaum Muslimin yang dikenal dengan panggilan Abu Hafshin dan julukan Al-Faruuq. Gelar tersebut disematkan pada dirinya, karena sikapnya yang teguh dalam membedakan antara haq dan bathil. Adapun nama aslinya adalah ‘Umar bin Khathab bin Nufail al-Quraisyi, yang mata rantai nasabnya bertemu dengan silsilah Rasulullaah pada datuk Ka’ab bin Lu’ay. Demikian Syaikh Muhammad al-Hudhari Beik memaparkan dalam Itmaamul Wafaa Fii Siiratil Khulafaa (Daarul Fikri: Tp. Tahun, hlm. 64)

Sulit untuk tidak percaya, betapa orang-orang terbaik di samping Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memberikan penilaian yang tepat bahwa kedua shahabat besar Abu Bakar dan ‘Umar ini “manusia teladan” setelah Nabi akhir zaman. Sekaliber shahabat ‘Ali bin Abu Thalib radhiyallaahu ‘anh memberikan kesaksiannya:

خيرُ النَّاسِ بعدَ رسولِ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ أبو بَكْرٍ، وخيرُ النَّاسِ بعدَ أبي بَكْرٍ عمرُ

“Sebaik-baiknya manusia setelah Rasulullaah adalah Abu Bakar dan sebaik-baiknya manusia setelah Abu Bakar adalah ‘Umar.” (Lihat: Shahiih Ibnu Maajah Li al-Albani no. 86)

Sebagaimana dijelaskan Imam Ahmad rahimahullaah [w. 241 H.], perkataan ‘Ali tersebut disampaikan pada khutbahnya di kota Kufah. Ini menunjukkan bahwa akhlaq para shahabat dalam “saling memuji” kelebihan dan keutamaan masing-masing benar-benar dipraktekkan dalam kehidupan. Kecintaan dan pengetahuan ‘Ali atas kemuliaan mereka bukanlah isapan jempol belaka, melainkan terlahir dari lubuk hati terdalam sebagai bukti ketawadhuannya. Karenanya, atsar ini pun menjadi hujjah bantahan bagi kalangan Raafidhah yang kerapkali “berlebihan” dalam mengagungkan dirinya atas kedua shahabat mulia yang dicintainya. Secara global, kedua shahabat ini telah mampu memetakan dirinya sebagai peletak dasar “tiang pancang” kekhalifahan; Yang pertama lebih pada pengokohan stabilitas internal misi risalah dakwah dan kekuasaan Daulah Islam, sedangkan yang kedua lebih pada pengembangan eksternal risalah dakwah dan teritorial kekuasaan Daulah Islam yang lebih luas.

Saat sakit mendera Khalifah pertama, disuruhlah shahabat ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallaahu ‘anh untuk menuliskan wasiat berlanjutnya estafeta kepemimpinan kepada shahabat ‘Umar bin Khathab radhiyallaahu ‘anh. Penunjukkan ini pun disambut para shahabat lainnya dengan penuh sami’naa wa atha’naa, Abu Bakar pun menorehkan kata demi katanya dengan penuh harapan: “Bismillaahir Rahmaanir Rahiim … Inilah pernyataan Abu Bakar kepada kaum Muslimin, sesungguhnya aku telah mengangkat ‘Umar bin Khathab sebagai penguasa kalian; Jika ia bersabar dan berbuat adil, itulah yang aku ketahui tentang dirinya. Jika ia tidak bersabar dan menyimpang, maka aku tidak mengetahui perkara ghaib. Adapun ia menjadi baik, maka itulah yang aku harapkan. Dan bagi setiap orang akan memetik apa yang telah dilakukannya.”

Seiring dibacakannya wasiat oleh ‘Utsman bin ‘Affan di hadapan kaum Muslimin, diikuti pembai’atan mereka terhadap ‘Umar bin Khathab. Sebagai Khalifah terpilih, Amiirul Mu’miniin ‘Umar bin Khathab menegaskan dalam pesannya agar kaum Muslimin tetap teguh memperjuangkan kebenaran dan keadilan. Selain itu, Abu Bakar pun berpesan secara khusus agar Khalifah pengganti menepati kewajibannya. Demikian Al-Khayyath menuturkan urainnya dalam Duruusut Taariikhil Islaami 2, hlm. 22-23.

Selain melanjutkan misi besar Khalifah sebelumnya; persiapan pasukan Usamah bin Zaid menghadapi Bani Ghassan [dekat Mu’tah], menghadapi gelombang orang-orang murtad pengikut nabi-nabi palsu dan penolak zakat [Musailamah al-Kadzab, Thulaihah al-Asadi dan Al-Aswad al-‘Ansi], pengembangan Islam ke Iraq yang dikuasai Kekaisaran Persia dengan dikomandani Khalid bin Walid [diikuti Qa’qa bin ‘Amr, ‘Iyadh bin Ghunm, Mutsanna bin Haritsah dan ‘Adi bin Hatim radhiyallaahu ‘anhum]. Begitu pula negeri Syam yang dikuasai Romawi, serta pengutusan panglima Khalid ke Yarmuk. Semua itu dilanjutkan oleh Khalifah kedua dengan pembebasan [futuhaat] negeri-negeri lainnya.

Setelah Khalifah Al-Faruuq berhasil membebaskan Damascus, Himsha, hingga Anthakiya di bawah panglima Abu ‘Ubaidah ‘Amir bin Jarrah dan Khalid bin Walid radhiyallaahu ‘anhumaa. Misi pun berlanjut dengan pertempuran tanah lapang di Ajnadain [antara Ramalah dengan Palestina] dengan panglima ‘Amr bin ‘Ash radhiyallaahu ‘anh, juga berhasil membebaskan Baitul Maqdis. Selain shahabat Abu ‘Ubaidah, juga Mu’adz bin Jabal dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallaahu ‘anhum pun terlibat dalam pengendalian negeri Syam. Pengembangan berikutnya, adalah menuju Mesir dan Alexandria dengan panglima ‘Amr bin ‘Ash yang diikuti Zubair bin ‘Awwam radhiyallaahu ‘anhumaa, menyusul Iraq yang dipimpin Abu ‘Ubaid bin Mas’ud Ats Tsaqafi [diikuti Jarir bin ‘Abdillah al-Bajalli dan Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallaahu ‘anhum] dengan pertempuran Al-Jisrul Uulaa dan dilanjutkan dengan perang Qadisiyyah dan pengepungan Madaain bersama panglima Sa’ad dan Hilal bin al-‘Alqamah radhiyallaahu ‘anhumaa.

Demikianlah episode perjalanan dan rekam jejak [siirah] orang-orang mulia, terlebih Khalifah ‘Umar bin Khathab radhiyallaahu ‘anh yang selalu “minta diluruskan” apabila dirinya bersalah; Di balik kebijakan, keadilan, kedudukannya sebagai penguasa, keberaniannya sebagai panglima, serta kejeniusannya dalam mengambil sikap dan pendapat. Ternyata, ‘Umar pun merupakan sosok bersahaja yang penuh kelembutan luar biasa. Di balik kewibawaan dan kesederhanaanya, terdapat kepribadian dan karakteristik prima nan digdaya. Benar apa yang dikatakan seorang mata-mata yang disusupkan oleh Al-Qaiqlar [panglima tentara Romawi], bahwa tentara Muslimin itu Bil laili ruhbaanun wa bin nahaari fursaanun; “Di malam hari mereka laksana pendeta khusu’, sedangkan di siang hari laksana kuda perang yang perkasa.” (Lihat: Al-Khayyath 2, hlm. 29-30)

Hiasan bingkai sejarah semisal ini dibenarkan oleh para saksi hidupnya yang sezaman, terutama peristiwa demi peristiwa “blusukan” sang Khalifah yang sering disaksikan istri dan mauwla-nya. Benar apa yang dikatakan shahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallaahu ‘anh dalam atsar berikut:

مازلنا أعزة منذ أسلم عمر

“Kami semua menjadi gagah nan mulia semenjak masuk Islam-nya ‘Umar.” (HR. Al-Bukhari no. 3684 dan Shahih Ibnu Hibban no. 6880, dari Qaisy bin Abu Hazim radhiyallaahu ‘anh). Allaahumma a’izzil Islaama bi ‘Umara

Print Friendly, PDF & Email

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!