Oleh: Teten Romly Qomaruddien

Bulan Muharram Tahun 1447 H tinggal hitungan hari, seiring dengan berjalannya waktu gema Muharram yang sering disebut-sebut sebagai “bulan kebangkitan” setiap tahunnya ini pun berangsur pudar berganti dengan agenda lainnya. Selain bulan Muharram sering dinisbatkan kepada peristiwa hijrahnya Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya dari Makkah ke Madinah [sekalipun banyak data sejarah yang lebih valid menyebutkan akhir bulan Shafar sebagaimana disinggung Al-Manshurfuri dan Al-Mubarakfuri], juga dijadikannya bulan tersebut sebagai bulan pertama dalam penanggalan Islam oleh Khalifah ‘Umar bin Khathab radhiyallaahu ‘anh. Karena itulah, bulan ini banyak menginspirasi kaum Muslimin sebagai bulan penuh makna yang menggairahkan dan membangkitkan.
Untuk lebih mengeratkan hubungan bulan Muharram dengan semangat kebangkitan [shahwah] dan perubahan [taghyiir], maka sangat tepat apabila kita menelusuri berbagai ikhtiar perjuangan [mukaafahah] yang menyebabkan terjadinya perubahan tersebut. Dalam beberapa pernyataan Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam disebutkan ada empat diksi yang berkaitan satu sama lain; Yakni niat, hijrah, taubat dan jihad. Semua ini bisa dilihat dari hadits-hadits berikut ini:
Pertama; Hubungan antara niat dengan hijrah, tertuang dalam riwayat berikut:
Dari shahabat Amirul Mukminin Abu Hafsh ‘Umar bin Khattab radhiyallaahu ‘anh yang mengatakan, bahwa ia mendengar Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menuturkan dalam sabdanya:
إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ
“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan; Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907)

Kedua; Hubungan antara hijrah dengan taubat, tertuang dalam riwayat yang diceritakan Abu Hindun Al-Bajalli radhiyallaahu ‘anh berikut ini:
عَنْ مُعَاوِيَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا تَنْقَطِعُ الْهِجْرَةُ حَتَّى تَنْقَطِعَ التَّوْبَةُ وَلَا تَنْقَطِعُ التَّوْبَةُ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا
Dari shahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallaahu ‘anh, ia berkata: Saya mendengar Rasulullaah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah hijrah itu terputus hingga terputusnya pintu taubat, dan tidaklah pintu taubat itu terputus, hingga matahari terbit dari tempat terbenamnya [kiamat].” (HR. Abu Dawud no. 2479)
Ketiga; Hubungan antara hijrah, niat dan jihad sekaligus. Hal ini tertuang dalam riwayat berikut:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ لَمَّا كَانَ يَوْمُ فَتْحِ مَكَّةَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا هِجْرَةَ بَعْدَ الْفَتْحِ وَلَكِنْ جِهَادٌ وَنِيَّةٌ
Dari shahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anh, ia berkata: Pada saat penaklukan kota Makkah, Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada hijrah lagi setelah penaklukan kota Makkah, yang ada hanyalah jihad dan niat.” (HR. Ad-Daarimi no. 2400).
Dengan tiga hadits ini, para ulama memetakannya dengan membagi hijrah menjadi dua; hijrah fisik [hijrah hissiyyah, badaniyyah, jasadiyyah] dan hijrah spirit [hijrah ma’nawiyyah, ruuhiyyah]. Yang bersifat fisik, Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengidzinkan sebahagian kecil para shahabatnya untuk hijrah ke Habasyah yang pertama [diikuti hanya 11 orang pria dan 4 orang wanita], termasuk ‘Utsman bin ‘Affan dan istrinya Ruqayyah radhiyallaahu ‘anhumaa. Lalu disusul berikutnya, hijrah ke Habasyah yang kedua bersama 83 orang pria dan 18 orang wanita dibawah pimpinan shahabat Jakfar bin Abu Thalib radhiyallaahu ‘anh. Demikian pula dengan hijrah dan dakwahnya Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sendiri ke Thaif yang ditemani Zaid bin Haritsah radhiyallaahu ‘anh dengan penuh setia membersamainya. Babak berikutnya, hijrahnya Sang Rasul yang diikuti ratusan kaum Muslimin secara bertahap; Baik yang sembunyi-sembunyi [sirriyyah] atau pun yang terang-terangan [jahriyyah].

Terkait hijrah ke Madinah ini, bukanlah semata-mata karena intimidasi musuh yang semakin keras. Melainkan strategi penyebaran dakwah risalah yang lebih membumi. Hijrah ke Madinah merupakan pilihan berdasarkan isyarat wahyu sebagaimana dituturkan dalam sabdanya:
رَأَيْتُ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أُهَاجِرُ مِنْ مَكَّةَ إِلَى أَرْضٍ بِهَا نَخْلٌ فَذَهَبَ وَهَلِي إِلَى أَنَّهَا الْيَمَامَةُ أَوْ هَجَرُ فَإِذَا هِيَ الْمَدِينَةُ يَثْرِبُ
“Aku pernah mimpi berhijrah [pindah] dari Makkah menuju suatu tempat yang ada pohon kurmanya. Lalu aku mengira daerah itu Yamamah atau Hajr, [namun] ternyata daerah itu adalah Yatsrib.” (HR. Bukhari dalam Al-Fath 7/ 226 dan Imam Muslim 4/ 1779).
Riwayat lainnya menjelaskan: “Aku diperlihatkan negeri hijrah kalian, yaitu satu negeri yang memiliki pohon kurma di antara dua lembah.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Fath 7/ 231).
Yang Pertama kali berangkat hijrah Ke Madinah adalah Mush’ab bin Umair dan ‘Abdullah bin Ummi Maktum, sebahagian riwayat menyebutkan Abu Salamah bin al-Asad, menyusul berikutnya Musa bin ‘Uqbah. Di antara mereka ada yang berniatan menetap dan ada pula yang sekadar sementara. Setelah itu Bilal bin Rabbah datang bersama Sa’ad bin Abi Waqqash dan ‘Ammar bin Yasir radhiyallaahu ‘anhum dan disusul kemudian oleh ‘Umar bin Khaththab radhiyallaahu ‘anh secara terang-terangan.
Dengan respon masyarakat Madinah yang antusias dalam menyambut risalah dakwah, kekuatan Muslimin semakin dirasakan dampaknya; Jalinan kuat antara para pendatang dari Makkah dan sambutan hangat kaum pribumi Madinah, melahirkan dua entitas cerminan masyarakat pejuang yang berkarakter dengan balutan iman Tauhid dan persaudaraan Islam [al-ukhuwwah al-Islaamiyyah] yang tiada tanding. Lahirnya Muhaajiriin dan Anshaar bukanlah sembarang komunitas yang melakukan hijrah fisik, melainkan perhimpunan ideologis terdidik dengan semangat hijrah ruuhiyyah yang bergerak bersama bimbingan seorang Manusia teladan yang dikawal dengan wahyu. Itulah generasi pertama umat terdahulu [as-saabiquunal awwaluun] sebagai cikal bakal “generasi terbaik” [khairu ummah].

Sungguh, sinerginya komitmen niat yang terus diperbaharui, semangat hijrah yang selalu dipelihara, introspeksi akan kesalahan yang pernah dilakukan dengan taubat yang berkesinambungan dan kesungguhan dalam berjihad yang senantiasa dikobarkan benar-benar akan mengantarkan siapa pun pelakunya menuju kemenangan yang nyata [fathan mubiinan]. Sejarah mengingatkan sebagaimana dituturkan shahabat ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallaahu ‘anh yang mengisyaratkan bahwa setelah Makkah dibebaskan dan penduduknya berbondong-bondong masuk agama Allah ‘azza wa jalla, menunjukkan tugas Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah berakhir dan dipanggil ke haribaan-Nya. Semoga spirit hijrah tidak lekas padam dari perjuangan kita. Wallaahu yahdiinaa ilaa sabiilir rasyaad

Alhamdulillâh. Jazākumullāhu khair Tadz. Mohon izin share.