Oleh: Teten Romly Qomaruddien

Menarik apa yang dipaparkan para ahli ilmu, bahwa inti mempelajari sejarah Nabi atau pun shahabatnya dengan segala kejadian yang ada di dalamnya merupakan kekayaan nilai yang teramat tinggi untuk diejawantahkan dalam kehidupan. Karena itulah mengapa mereka lebih menonjolkan perjalanan dakwah dari sudut rekam jejak peristiwanya dari pada menyoal masalah penanggalan dan geografis yang menjadi objek kajian sejarahnya. Pendekatan pertama, itulah yang disebut dengan Ilmu Siirah yang lebih berbasiskan ilmu riwayat. Sedangkan pendekatan yang kedua, disebut Ilmu Taarikh yang lebih berbasiskan kepada waktu dan tempat; Kapan lahir dan kapan wafat atau kapan bangkit dan kapan runtuh suatu peradaban. Sekalipun sama-sama membicarakan sejarah, namun memiliki sudut pandang yang berbeda titik tolaknya. Barisan pertama diperkuat oleh kalangan ahlul hadits [muhadditsuun], sedangkan barisan kedua banyak dilakukan oleh para pengkaji sejarah [muarrikhuun]. Demikian Syaikh Dr. Muhammad Sa’id Bakar [Pakar Sirah, ulama Yordania asal Palestina] menjelaskan dalam kajiannya di hadapan para peserta Diklat Diraasatus Siirah an-Nabawiyyah al-Mustaniirah Majelis Ormas Islam [MOI] di Aula Gedung Pimpinan Pusat Persatuan Islam Kantor Jakarta.
A. Inti Belajar Sejarah Nabi
Dengan membaca beberapa kitab sejarah Nabi, apa yang ditulis oleh para ahli riwayat, mereka lebih memilih judul pada kitabnya dengan menyajikan istilah As-Siirah an-Nabawiyyah seperti halnya Al-Imam Ibnu Ishaq dan Al-Imam Ibnu Hisyam. Bahkan kitab-kitab sejarah kontemporer semisal Fiqhus Siirah an-Nabawiyyah Dr. Sa’id Ramadhan al-Buthy, Al-Manhaj al-Haraki Lis Siirah an-Nabawiyyah Dr. Munir Muhammad al-Ghadhaban, As-Siirah an-Nabawiyyah; Duruusun wa ‘Ibarun Dr. Muhammad Musthafa as-Siba’iy dan Ar-Rahiiqul Makhtuum Syaikh Shafiyur Rahman al-Mubarakfuri yang diringkaskan menjadi Raudhatul Anwaar Fii Siiratin Nabiy al-Mukhtaar. Semuanya lebih menekankan pada sisi rekam jejak peristiwa, karenanya ketika membahas peristiwa Isra’ dan Mi’raj pun menjadi catatan penting. Manakah yang lebih diutamakan dari kedua pendekatan ilmu tersebut? Mengetahui kapan sebenarnya peristiwa itu terjadi atau pelajaran apa yang bisa diambil dari peristiwa tersebut.
B. Membincang Isra’-Mi’raj
Dalam konteks kesejarahan peristiwa Isra’ dan Mi’raj, apabila merujuk beragam pandangan ahli ilmu, di antaranya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullaah sebagaimana dituturkan muridnya Ibnu Qayyim al-Jauwziyyah rahimahullaah yang menegaskan: “Tidak ada dalil yang tegas yang menyatakan terjadinya Isra’-Mi’raj pada bulan tertentu atau sepuluh hari tertentu atau ditegaskan pada tanggal tertentu. Bahkan sebenarnya para ulama berselisih pendapat mengenai hal ini, tidak ada yang bisa menegaskan waktu pastinya.” (Lihat: Zaadul Ma’aad, 1/54).
Adapun mengimani bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam benar-benar mengalami peristiwa Isra’ dan Mi’raj; Diperjalankan di malam hari dari Masjidil Haram ke Baitul Maqdis, naik ke langit dengan ruh dan jasadnya dalam keadaan sadar hingga langit ketujuh menembus Sidratul Muntahaa dengan mengendarai Buraq [kendaraan semisal hewan yang lebih kecil dari kuda dan lebih besar dari keledai dengan kecepatan sejauh mata memandang], memasuki surga, melihat neraka, melihat para Malaikat, mendengar pembicaraan Allah, bertemu dengan para Nabi, dan mendapat perintah shalat yang lima waktu dalam sehari semalam. Kembali ke Makkah pada malam itu juga. Semua itu benar adanya sebagaimana ditunjukkan riwayat-riwayat terpercaya. (Lihat: Imam Al-Barbahari, Syarhus Sunnah, no. 72)

Terutama sekali dalam menerima perintah shalat lima waktu, Rasulullaah shallallaahu ‘alihi wa sallam menuturkan: “Aku terus bolak-balik antara Rabb-ku dengan Musa ‘alaihis sallaam sehingga Rabb-ku mengatakan:
يَا مُحَمَّدُ، إِنَّهُنَّ خَمْسُ صَلَوَاتٍ كُلَّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، لِكُلِّ صَلاَةٍ عَشْرٌ فَذَلِكَ خَمْسُوْنَ صَلاَةً، وَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كُتِبَتْ لَهُ حَسَنَةً، فَإِنْ عَمِلَهَا كُتِبَتْ لَهُ عَشْرًا، وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا لَمْ تُكْتَبْ شَيْئًا، فَإِنْ عَمِلَهَا كُتِبَتْ سَيِّئَةً وَاحِدَةً.
“Wahai Muhammad, sesungguhnya kewajiban shalat itu lima kali dalam sehari semalam, setiap shalat mendapat pahala sepuluh kali lipat, maka lima kali shalat sama dengan lima puluh kali shalat. Siapa yang berniat melakukan satu kebaikan, lalu ia tidak melaksanakannya maka dicatat untuknya satu kebaikan. Dan jika ia melaksanakannya, maka dicatat untuknya sepuluh kebaikan. Siapa yang berniat melakukan satu kejelekan namun ia tidak melaksanakannya, maka kejelekan tersebut tidak dicatat sama sekali, dan jika ia melakukannya maka hanya dicatat sebagai satu kejelekan.” (HR. Muslim no. 162 [259], dari shahabat Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu).
Riwayat lain menyebutkan: “Kemudian aku turun hingga bertemu Musa ‘alaihis sallaam, lalu aku beritahukan kepadanya, maka ia mengatakan: “Kembalilah kepada Rabb-mu dan mintalah keringanan lagi”. Rasulullaah pun berkata: “Lalu aku menjawab: Aku telah berulang kali kembali kepada Rabb-ku hingga aku merasa malu kepada-Nya.” (Lihat: Ibnu Qayyim al-Jauwziyyah, Ijtimaa’ul Juyusy al-Islaamiyyah ‘alaa Ghazwil Mu’aththilah wal Jahmiyyah, hlm. 55).
Saat Wahyu Al-Qur’an dan Khabar Nubuwwah yang shahih berkisah, maka tidak ada alasan bagi mereka yang bertauhid dan memegang prinsip-prinsip ‘aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah untuk tidak menerimanya. Allah ‘azza wa jalla berfirman:
سُبْحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda [kebesaran] Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Isra’/ 17: 1)
وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَىٰ. عِندَ سِدْرَةِ ٱلْمُنتَهَىٰ. عِندَهَا جَنَّةُ ٱلْمَأْوَى
“Dan sungguh, dia [Muhammad] telah melihatnya [Jibril] pada kali yang lain, di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal.” (QS. An-Najm/ 53: 13–15)

C. Isra’-Mi’raj; Sikap Masyarakat Dahulu dan Kini
Apabila dicermati bagaimana sikap masyarakat terdahulu dan sekarang, memiliki tingkat kemiripan yang hampir sama. Mengacu kepada apa yang pernah terjadi dengan peristiwa Isra’-Mi’raj minimalnya terbagi menjadi tiga golongan:
Pertama; Golongan yang menolak dan mendustakan
Shahabat Jabir bin ‘Abdillah radhiyallaahu ‘anh berkata:
لَمَّا كَذَّبَتْ قُرَيْشٌ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِالإِسْرَاءِ، قَامَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فِي الْحِجْرِ، فَجَلَّى اللَّهُ لَهُ بَيْتَ الْمَقْدِسِ، فَطَفِقَ يُخْبِرُهُمْ عَنْ آيَاتِهِ، وَأَنَا أَنْظُرُ إِلَيْهِ.
“Ketika kaum Quraisy mendustakan Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam terkait peristiwa Isra’, Nabi pun berdiri di Hijir maka Allah menunjukkan padanya Baitul Maqdis. Lalu Nabi menjelaskan kepada mereka tanda-tanda Baitul Maqdis itu dan aku [Jabir] pun melihat hal tersebut.” (HR. Al-Bukhari no. 3886 dan HR. Muslim no. 170)
Kelompok ini sudah ada sejak zaman masyarakat Quraisy, bagaimana akal mereka bisa menerima kejadian tersebut sementara mereka tidak beriman. Artinya adalah, berakal saja tidaklah cukup apabila akal seseorang tidak disempurnakan dengan ketundukkan pada wahyu. Lebih mengedepankan akal pikiran dan menegasikan fungsi wahyu, kini telah menjadi pemandangan umum yang melanda alam pikiran sebahagian akademisi sekular abad ini seperti halnya kaum Orientalisme yang tidak mempercayai adanya mukjizat para Nabi.
Kedua; Golongan yang meragukan dan ingin menguji kebenaran peristiwa
Setelah Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tanda-tanda Baitul Maqdis dengan akurat, mereka pun terdiam karena apa yang dirincikannya benar-benar sesuai dengan kenyataan yang mereka lihat sendiri. Kelompok ini terjadi pula pada sebahagian kaum Rasionalisme yang tidak percaya begitu saja, melainkan membuktikannya dengan ilmu pengetahuan yang mereka miliki.
Ketiga; Golongan yang percaya tanpa adanya keraguan
Shahabat Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallaahu ‘anh menegaskan:
إِنِّي أُصَدِّقُهُ فِي خَبَرِ السَّمَاءِ، فَكَيْفَ لَا أُصَدِّقُهُ فِي ذَلِكَ؟
“Sesungguhnya aku membenarkan berita langit itu, bagaimana aku tidak membenarkannya dalam hal ini?” (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi).
Kelompok terakhir ini adalah mereka yang mendahulukan iman di atas segalanya; Kepercayaan yang tulus dalam memegang kebenaran Allah dan rasul-Nya, membuat Dzat Pemberi hidayah senantiasa berpihak pada dirinya. Itulah cerminan manusia yang berhati ikhlas dalam menerima kebenaran seperti shahabat mulia Abu Bakar as-Shiddiq radhiyallaahu ‘anh di segala zaman.

D. Mengubah Duka Menjadi Cita Bahagia
Sebagaimana dijelaskan dalam kitab-kitab Siirah, ada banyak ujian yang mendera dan menghadang gerak laju dakwah Rasulullaah shalallaahu ‘alaihi wa sallam sepanjang kurun waktu sepuluh kenabian; Mulai dari terjadinya pemboikotan terhadap kaum Muslimin, wafatnya Abu Thalib paman yang sangat disayanginya, wafatnya Sayyidah Khadijah binti Khuwailid radhiyallaahu ‘anhaa istri tercinta yang banyak menopang dakwahnya, hingga perlakuan masyarakat Thaif [saat itu] yang merendahkan dan menghinakan dirinya. Bukan perlindungan yang Rasul dapatkan, melainkan cemoohan yang menyakitkan. Itulah yang melatar belakangi para ahli sejarah, menyebutkan bahwa tahun ini merupakan tahun kesedihan [‘aamul huzn]. (Lihat: Al-Mubarakfuri dalam Raudhatul Anwaar: 1436 H.)
Namun di balik kejadian dan peristiwa yang menimpa, Allah ‘azza wa jalla menganugerahkan kuasa-Nya melebihi apa yang dialami sebelumnya; Sebuah puncak kemuliaan [dzarwatut takriim] berupa mukjizat Isra’-Mi’raj, kini telah menebus segala bentuk kepenatan perjuangan, kesedihan mendalam dan penghinaan yang membuat keputus asaan. Semua itu telah berubah menjadi puncak semangat yang menggairahkan perjuangan. Perjalanan super menakjubkan hingga menembus Sidratul Muntahaa sebagai tempat terujung, menunjukkan kedudukan yang sangat tinggi dan hanya Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang mampu menembusnya dengan segala kemuliaan dan kekuasaan Allah ‘azza wa jalla yang tidak ada tandingannya.
يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانْفُذُوا ۚ لَا تَنْفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ
“Wahai golongan jin dan manusia! Jika kamu sanggup menembus [melintasi] penjuru langit dan bumi, maka tembuslah; kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuasaan.” (QS. Ar-Rahmaan/ 55: 33)
Apa yang dituturkan para ulama tafsir [baik kalangan Salaf maupun Khalaf], bahwa tidak ada yang bisa menembusnya kecuali dengan sulthaan memiliki pengertian hanya yang diberikan kemampuan sempurna atas kuasa Allah ‘azza wa jalla sebagaimana pandangan Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman al-Asyqar dalam Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadiir atau Syaikh ‘Abdurrahman Nashir as-Sa’di dalam Taiysiirul Karrimir Rahman Fii Tafsiiri Kalaamil Mannaan yang menukil tafsir-tafsir ulama sebelumnya, sekalipun ada pula yang memaknainya bahwa sulthaan dimaknai dengan ilmu pengetahuan seperti yang banyak dituturkan para mufassir kontemporer. Dengan demikian, pengkajian terhadap peristiwa Isra’-Mi’raj dengan segala pendekatannya [baik pendekatan ‘aqidah, syari’ah, sejarah, dakwah, sains dan peradaban]; Bukanlah sekadar mukjizat agung yang hanya diketahui dan dikenang sepanjang zaman secara berulang, melainkan peristiwa yang wajib dijadikan renungan [tadabbur], hikmah dan pelajaran [‘ibarun wa duruusun] yang “menteladankan” setiap bayang-bayang derap langkah perjuangan. Habis gelap terbitlah terang, sirnanya duka lara muncullah cita bahagia … Fa’tabiruu yaa ulil albaab

Alhamdulillaah sae Tadz. Jazaakumullaahu khair. Mohon izin share