Sabtu, Januari 18MAU INSTITUTE

KETIKA RASUL YANG MULIA DINISTA MANUSIA HINA

KETIKA RASUL YANG MULIA DINISTA MANUSIA HINA
Oleh:
Teten Romly Qomaruddien

Tidak syak lagi, kemuliaan Nabi akhir zaman Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam bukan sekedar memiliki dalil-dalil yang pasti (qath’iyud dalâlah), melainkan mengundang rasa ingin tahu yang mendalam para peneliti, pengkaji, bahkan para Islamolog yang terdiri dari para sejarawan Timur dan Barat.

Sebagai Muslim, tidak ada alasan untuk tidak meyakini bahwa dalam dirinya memiliki sifat dan karakteristik prima. Sekalipun sama-sama manusia, tentu tidak dapat disamakan dengan manusia pada umumnya.

Ada banyak ayat Allah ‘azza wa jalla mengisyaratkan tentang keutamaan dan kemuliannya. Di antara ayat-ayat dimaksud adalah:

1. Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam disebut-sebut sebagai manusia yang paling dekat kekerabatannya (aulan nâs) dengan bapaknya para Nabi (abul anbiyâ) Nabiyullâh Ibrahim ‘alaihis salâm:

إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَٰذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آمَنُوا ۗ وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ

“Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman.” (QS. Âlu ‘Imrân/ 3: 68)

2. Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam tidaklah sama dengan manusia biasa (basyarun mitslukum). Beliau diberikan wahyu oleh Allah ‘azza wa jalla:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa.” Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi/ 18: 110)

3. Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam merupakan peribadi yang sempurna sebagai suri tauladan (uswatun hasanah):

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasûlullâh itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzâb/ 33: 21)

4. Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam merupakan benar-benar Nabi pamungkas (khâtamun nabiyyîn):

مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَٰكِن رَّسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzâb/ 33: 40)

5. Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam mendapatkan pujian dari Allah ‘azza wa jalla dan dido’akan (yushallûna) para malaikatNya:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzâb/ 33: 56)

6. Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam benar-benar utusan Allah (Muhammadun rasûlullâh) yang memiliki sikap tegas terhadap orang-orang kafir, namun kasih sayang dan lembut terhadap orang-orang yang bersamanya:

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا ۖ سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ ۗ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaanNya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Fath/ 48: 29)

7. Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam telah diberitakan kehadirannya dalam kitab terdahulu dengan nama Ahmad (ya’tî min ba’dismuhû Ahmad):

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُم مُّصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِن بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ ۖ فَلَمَّا جَاءَهُم بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَٰذَا سِحْرٌ مُّبِينٌ

“Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)”. Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.” (QS. As-Shaff/ 61: 6)

8. Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam merupakan cerminan akhlaq yang luhur (la’alâ khuluqin ‘azhîm):

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam/ 68: 4)

9. Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam dipanggil Allah ‘azza wa jalla tidak dengan sebutan namanya secara langsung, melainkan panggilan kehormatan “wahai Nabi”, yakni yâ ayyuhan nabiyy (Lihat: QS. Al-Ahzâb/ 33: 28, At-Thalâq/ 65: 1 dan At-Tahrîm/ 66: 1), atau panggilan julukan yang positif “wahai orang yang berselimut” yakni seruan yâ ayyuhal muzammil (QS. Al-Muzammil/ 73: 1) dan yâ ayyuhal muddatstsir (QS. Al-Muddatstsir/ 74: 1)

Adapun dalil-dalil berupa hadits Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam, sama banyaknya. Di antaranya beliau bersabda:

أُعطيت خمسا لم يعطهن أحد من الأنبياء قبلي : نُصرت بالرعب مسيرة شهر وجُعلت لي الأرض مسجداً وطهوراً ، فأيما رجل من أمتي أدركته الصلاة فليصلِّ وأُحلّت لي الغنائم ، ولم تُحلّ لأحد قبلي وأعطيت الشفاعة وكان النبي يبعث إلى قومه خاصة ، وبعثت إلى الناس عامّة

“Diberikan kepadaku lima perkara yang belum pernah diberikan kepada seorang pun sebelumku: Aku diberikan pertolongan dapat menggentarkan musuh sebelum sebulan perjalanan, dijadikannya bumi sebagai tempat sujud dan bersuci; di mana pun ummatku mendapatkan waktu shalat maka hendaklah shalat, dihalalkan untukku harta rampasan perang yang tidak dihalalkan pada seorang pun sebelumku, diberikan kepadaku syafa’at dan Nabi terdahulu diutus hanya kepada kaumnya saja, sedangkan aku diutus kepada seluruh manusia.” (HR. Muttafaq ‘Alaih dari shahabat Jâbir bin ‘Abdillah radhiyallâhu ‘anh)

Bahkan, dalam riwayat yang berbeda, disebutkan bahwa Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam adalah penghulu anak cucu Adam dan Nabi yang paling banyak pengikutnya di hari qiamat, manusia pertama yang mengetuk pintu sorga, manusia pertama yang quburnya terbongkar. Beliaulah manusia pertama yang memberi dan mendapatkan syafa’at.

Oleh karenanya, betapa perhatiannya para ulama dalam memelihara kemuliaan Nabi akhir zaman yang penuh keutamaan ini. Imam At-Tirmidzi menyusun kitab khusus tentang karakteristik dan sifat Nabi dalam kitabnya Mukhtashar as-Syamâil al-Muhammadiyyah yang diteliti kembali hadits-haditsnya oleh Syaikh Muhammad Nâshiruddin al-Albani. Adapun Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyyah begitu sangat murka terhadap siapa pun yang berani menistakan Rasul yang mulia dalam kitabnya As-Shârimul Maslûl ‘Alâ Syâtimir Rasûl yang apabila diartikan menjadi “Pedang Terhunus bagi Penista Rasul.” Dalam konteks kekinian, sebenarnya di level internasional Râbithah al-‘Âlam al-Islâmi telah membentuk lembaga khusus dunia (Al-Hai’ah al-Khairiyyah al-‘Âlamiyyah ) yang missinya memelihara keagungan Nabi yang penuh kasih sayang.

Demikian mulia dan sempurnanya anugerah Allah ‘azza wa jalla yang diberikan kepada manusia terbaik di kolong jagat dan akhiratNya (khairul anâm). Jangankan “manusia hina” seperti kita, para Nabi dan Rasul sebelumnya pun mengakuinya dan akan menjadikan beliau sebagai saksi (syâhidan) bahwa risalah Allah telah disampaikan oleh mereka kepada kaumnya sekalipun satu sama lain, kata mereka: “kami tidak membeda-bedakan antara rasul yang satu dengan rasul lainnya” (lâ nufarriqu baina ahadin min rusulih). Lalu, apa jadinya dan siapa kita???, apabila dengan lancangnya, kita berani mensejajarkan, merendahkan, menghinakan, dan menistakannya … Wallâhul musta’ân
_____

✍ Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya: “Agar Cinta Tidak Bertepuk Sebelah Tangan (Narasi Cinta Bagi Nabi yang Mulia)”

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by wp-copyrightpro.com