SEXUAL CONSENT; BIAS TAFSIR YANG MERUNTUHKAN TATANAN LANGIT DAN BUMI
SEXUAL CONSENT; BIAS TAFSIR YANG MERUNTUHKAN TATANAN LANGIT DAN BUMI
Oleh:
Teten Romly Qomaruddien
Sudah menjadi fithrah manusia, kebutuhan akan seks (jinsiyyah) itu merupakan naluri yang telah Allah 'azza wa jalla anugerahkan. Sama halnya dengan kecintaan manusia terhadap wanita secara umum, anak yang dibanggakan, kekayaan yang dimiliki (termasuk kekuasaan). Al-Qur'an mengisyaratkan dalam firmanNya:
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ ٱلشَّهَوَٰتِ مِنَ ٱلنِّسَآءِ وَٱلْبَنِينَ وَٱلْقَنَٰطِيرِ ٱلْمُقَنطَرَةِ مِنَ ٱلذَّهَبِ وَٱلْفِضَّةِ وَٱلْخَيْلِ ٱلْمُسَوَّمَةِ وَٱلْأَنْعَٰمِ وَٱلْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَٰعُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَٱللَّهُ عِندَهُۥ حُسْنُ ٱلْمَـَٔابِ
"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta y...













